Pengajuan Justice Collaborator Wahyu Setiawan Ditolak, Ini 2 Alasan Jaksa

Dwi Andayani - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 17:06 WIB
Sidang kasus suap eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan (Dwi Andayani/detikcom)
Sidang kasus suap eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan (Dwi Andayani/detikcom)
Jakarta -

Jaksa penuntut umum (JPU) menolak permintaan Wahyu Setiawan yang mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC) dalam kasus suap terkait pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR Fraksi PDIP. Jaksa menilai Wahyu tidak memenuhi persyaratan sebagai JC.

"Kami selaku penuntut umum menilai bahwa terdakwa I (Wahyu) tidak layak untuk dapat ditetapkan sebagai justice collaborator, karena yang bersangkutan tidak memenuhi persyaratan," ujar jaksa Takdir Suhan dalam sidang pembacaan tuntutan di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (3/8/2020).

Jaksa mengatakan, dalam pertimbangan JC pihaknya berpedoman pada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) nomor 4 tahun 2011. Pemohon JC disyaratkan bukan pelaku utama. JC juga harus bersikap kooperatif selama pemeriksaan.

"Kami selaku penuntut umum memberikan pendapat dengan berpedoman pada ketentuan SEMA nomor 04 tahun 2011 yang mengatur tata cara penetapan terhadap saksi pelaku yang bekerja sama atau justice collaborator, yaitu harus memenuhi syarat-syarat. Antara lain yang bersangkutan bukanlah pelaku utama atau perannya sangat kecil, bersikap kooperatif dalam membuka tindak pidana yang melibatkan dirinya maupun pihak-pihak lain yang mempunyai peranannya lebih besar," kata Jaksa.

Menurut jaksa, dalam kasusnya, Wahyu terbukti sebagai pelaku utama. Jaksa menyebut Wahyu terbukti menerima suap dari Saiful Bahri terkait PAW Caleg DPR RI dan penerima suap terkait proses seleksi calon anggota KPU Provinsi Papua Barat.

"Telah dapat dibuktikan bahwa terdakwa I merupakan pelaku utama dalam penerimaan uang atau suap dari Saiful Bahri, terkait permohonan penggantian Caleg DPR RI dari Riezky Aprilia kepada Harun Masiku di KPU RI," ujar Takdir.

Selanjutnya
Halaman
1 2