Pemerintah Pantau 77.572 Suspek Corona pada 3 Agustus

Tim detikcom - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 15:55 WIB
Poster
Ilustrasi Virus Corona (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah memperbarui data terkait virus Corona (COVID-19) di Indonesia. Hari ini, ada 70 ribu lebih suspek Corona yang dipantau pemerintah.

Berdasarkan data di situs Kemenkes dan dipublikasikan BNPB, pada Senin (3/8/2020), sebanyak 77.572 suspek Corona dipantau oleh pemerintah. Data terkait suspek Corona disampaikan oleh pemerintah secara berkala dengan cut off pukul 12.00 WIB setiap harinya.

Sementara itu, hari ini pemerintah juga memeriksa 14.728 spesimen. Dari spesimen tersebut, didapatkan tambahan kasus positif Corona sebanyak 1.679 kasus, sehingga totalnya menjadi 113.134.

Kemudian penambahan pasien sembuh pada 3 Agustus sebanyak 1.262, sehingga totalnya menjadi 70.237. Sedangkan kasus positif Corona yang meninggal pada hari ini sebanyak 66 orang, sehingga totalnya menjadi 5.302.

Istilah suspek tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Tidak ada lagi istilah pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), ataupun orang tanpa gejala (OTG).

Berdasarkan Kepmenkes tersebut, berikut ini definisi kasus suspek:
a. Orang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.
b. Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable COVID-19.
c. Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

"Kita menyebutkan kasus suspek apabila ada kriteria sebagai berikut, salah satu di antaranya, pertama, orang dengan ISPA yang akut dan dalam 14 hari terakhir sebelum timbulnya gejala ini dia melaksanakan perjalanan atau tinggal di daerah di mana dilaporkan transmisi lokal terjadi," jelas juru bicara pemerintah terkait penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, kala itu dalam jumpa pers yang disiarkan di YouTube BNPB, Rabu (15/7).

(azr/gbr)