BP2MI Beri Santunan dan Progam Purna PMI bagi Etty Toyib

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 12:12 WIB
Kepala BP2MI Benny Rhamdani dan Etty Toyib
Etty Toyib di ruang kerja Kepala BP2MI, Kamis (30/7/2020) (Foto: Dok. BP2MI)
Jakarta -

Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani menyerahkan santunan sebesar Rp 10 juta untuk Etty Rohaeti bin Toyib Anwar, Kamis malam (30/7). Santunan diberikan sesaat dia berpamitan usai mengantar pekerja migran yang baru bebas dari hukuman mati di Arab Saudi ke kampung halamannya di Desa Cidadap, Majalengka. "Semoga ini dapat membantu bekal Ibu menjalani hari-hari ke depan," kata Benny sambil duduk bersimpuh saat bersalaman dengan Etty.

Dalam perjalanan Jakarta-Majalengka, Etty sempat mengungkapkan niatnya membuka usaha guna menyambung hidup. Hanya saja jenis usaha yang akan dibukanya belum terpikirkan karena harus mengumpulkan modal. Dia tak berminat untuk menjadi juru dakwah seperti Mamah Dedeh meski punya pengetahuan keagamaan cukup baik. Tapi bila ada orang yang datang dan meminta pendapat, kata Etty, dirinya akan membagikan pengetahuannya. "Saya tak mau menjual agama," ujarnya.

Kepala BP2Mi Benny Rhamdani mencium tangan Etty ToyibKepala BP2Mi Benny Rhamdani mencium tangan Etty Toyib (Yulius Dimas Wisnu AW/20 detik)

Kementerian Sosial, Benny mencontohkan, berkomitmen membantu program-program pemberdayaan Purna PMI (PKH, Bansos Tunai, Bansos Sembako, dan Kartu Sembako). Selain itu, Kementerian BUMN punya program pemberdayaan, pengelolaan remitansi, dan optimalisasi CSR untuk program kesejahteraan PMI dan keluarga.

Selain santunan tersebut, kata Benny, Etty berhak mengikuti berbagai program pemberdayaan BP2MI. Bentuknya antara lain pelatihan kewirausahaan dan pendampingan usaha. Dalam masa pandemi ini, BP2MI telah berkomunikasi dengan beberapa kementerian/lembaga terkait untuk mensinergikan program Jaring Pengaman Sosial agar dapat dimanfaatkan pekerja migran Indonesia (PMI) dan keluarganya.

Seperti diketahui, Etty Toyib kembali ke Indonesia pada 6 Juli lalu setelah mendekam selama 18 tahun di penjara. Ia telah difitnah keluarga majikannya seolah telah meracun orang tua mereka, Faisal al-Ghamdi, pada 2001. Berkat ketekunan pemerintah Indonesia dan berbagai pihak terkait, Etty mendapat pengampunan dan harus membayar diyat sebesar Rp 15,5 miliar.

(jat/jat)