Pemerintah Pantau 57.816 Suspek Corona pada 1 Agustus

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 01 Agu 2020 15:49 WIB
Poster
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah memperbarui data terkait virus Corona (COVID-19) di Indonesia pada 1 Agustus 2020. Per hari ini, pemerintah memantau 50 ribuan suspek virus Corona.

Berdasarkan data di situs Satgas Penanganan COVID-19, pada Sabtu (1/8/2020), sebanyak 57.816 suspek Corona dipantau oleh pemerintah. Data terkait suspek Corona disampaikan oleh pemerintah secara berkala dengan cut off pukul 12.00 WIB setiap harinya.

Sementara itu, hari ini pemerintah juga memeriksa 11.190 spesimen. Dari spesimen tersebut didapatkan tambahan kasus positif Corona sebanyak 1.560 kasus, sehingga total menjadi 109.946.

Kemudian penambahan pasien sembuh pada 1 Agustus sebanyak 2.012, sehingga totalnya menjadi 67.919. Sedangkan kasus positif Corona yang meninggal pada hari ini sebanyak 62 orang, sehingga total menjadi 5.193.

Istilah suspek tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Tidak ada lagi istilah pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), maupun orang tanpa gejala (OTG).

Berdasarkan Kepmenkes tersebut, berikut ini definisi kasus suspek:

a. Orang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.

b. Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable COVID-19.

c. Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

"Kita menyebutkan kasus suspek apabila ada kriteria sebagai berikut, salah satu di antaranya, pertama, orang dengan ISPA yang akut dan dalam 14 hari terakhir sebelum timbulnya gejala ini dia melaksanakan perjalanan atau tinggal di daerah di mana dilaporkan transmisi lokal terjadi," jelas juru bicara pemerintah terkait penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, kala itu dalam jumpa pers yang disiarkan di YouTube BNPB, Rabu (15/7).

(rfs/jbr)