MPR Dorong BUMDes Ende Kembangkan Racikan Kopi Flores

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 17:10 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid singgah di salah satu warung yang berada di pinggir jalan. Di warung yang merupakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) itu, ia dan rombongan disuguhi jagung, pisang, dan ketela bakar serta kopi khas Ende.

Jazilul menyebut kopi khas Ende mempunyai ciri yang khas saat diseruput dan dinikmati serta berbeda dengan kopi di tempat lain.

"Rasanya khas. Saya pikir tidak kalah dengan kopi dari luar," ungkap Guz Jazil, sapaan akrabnya, dalam keterangannya, Kamis (30/7/2020).


Jazilul mendorong agar BUMDes itu lebih dikembangkan dan harus bisa menjadi contoh BUMDes di daerah lainnya. BUMDes ini, menurut politisi PKB itu, sudah semestinya dan seharusnya dijadikan sarana untuk memberdayakan masyarakat desa. Ia menyebut warung tersebut tidak ada alat untuk mengemas dan meracik kopi.

"Bila ada yang kurang, maka pemerintah wajib membantu. Padahal alat yang demikian pemerintah sudah mempersiapkan," tuturnya.

Kata Jazilul, di desa itu ada potensi kopi, tetapi alat pengelolaannya masih minim. Menurutnya, pasar kopi terbuka sebab BUMDes yang ada berada di jalur lalu lintas ke tempat wisata Danau Kelimutu. Sebagai wakil rakyat, Jazilul berjanji akan membantu apa yang kurang di BUMDes itu.

"Kalau ke Kelimutu bisa mampir ke sini. Pemerintah pusat dan daerah harus berkoordinasi untuk melihat BUMDes-BUMDes yang punya potensi," ujarnya.


Jazilul mengatakan di era pandemi COVID-19, BUMDes secepatnya mengkoordinir potensi desa dan langsung dikerjakan karena hal yang demikian akan membuat pertumbuhan ekonomi di desa menggeliat. Dengan adanya aktivitas ekonomi, maka ada produk yang diserap.

"Bila ada demand maka produksi meningkat sehingga menciptakan lapangan pekerjaan," paparnya.

Jazilul juga menyebut senang ke kepala desa di tempat itu karena lulusan Amerika Serikat dan masih muda. Hal demikian menunjukkan banyak anak desa yang memilih pulang kampung dan berkarya di sana.

(mul/ega)