Masa Tahanan Maria Lumowa Pembobol BNI Rp 1,7 T di Bareskrim Diperpanjang

Audrey Santoso - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 15:34 WIB
Menko Polhukam Mahfud MD (kiri) didampingi 
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly (kanan) menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait ekstradisi buronan pelaku pembobolan Bank BNI Maria Pauline Lumowa di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2020). Tersangka pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif sebesar Rp1,7 triliun diekstradisi dari Serbia setelah menjadi buronan sejak 2003. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz.
  *** Local Caption ***
Tersangka pembobol Bank BNI Rp 1,7 triliun Maria Pauline Lumowa (Aditya Pradana Putra/Antara Foto)
Jakarta -

Masa penahanan tersangka pembobol Bank BNI Rp 1,7 triliun Maria Pauline Lumowa (MPL) di Bareskrim Polri diperpanjang. Polri menyebut perpanjangan masa tahanan berdasarkan surat dari Kajati DKI Jakarta.

"Berdasarkan surat Kajati DKI Jakarta tanggal 28 Juli 2020 tentang perpanjangan penahanan, maka untuk paling lama 40 hari," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono dalam konferensi pers daring di akun YouTube Tribrata TV pada Kamis (30/7/2020).

Awi menuturkan Maria Lumowa akan menghuni Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Polri hingga 7 September mendatang. "Terhitung mulai tanggal 30 Juli 2020 sampai tanggal 7 September 2020, di Rutan Bareskrim Polri memperpanjang penahanan atas nama tersangka MPL," sambung Awi.

Dalam kasus ini, Bareskrim Polri juga berencana memeriksa eks napi Richard Kountul. Polri akan melakukan pendalaman soal penunjukan Richard sebagai Direktur PT MT dalam kasus Maria.

Awi menjelaskan, hasil penyidikan sementara terhadap Maria, Richard diketahui telah menandatangani dokumen untuk tersangka Maria. Atas permintaan Maria, PT MT mentransfer LC (letter of credit) yang sudah dicairkan dan dikonversi ke USD ke dua perusahaan lain.

Selain itu, Awi menuturkan, tim penyidik Bareskrim Polri juga akan melakukan pemeriksaan terhadap tiga bank swasta. Pemeriksaan terkait aliran dana dan LC fiktif tersebut.

Sebelumnya, penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri telah memeriksa narapidana Adrian Herling Waworuntu atau AHW sebagai saksi dalam kasus Maria. Polisi menyebut keterangan Adrian menguatkan pemeriksaan Maria.

(aud/fjp)