Terlilit Utang Rp 150 Juta, Mantan Atlet Maria Lawalata Urusan dengan Polisi

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Senin, 27 Jul 2020 16:27 WIB
Terlilit Utang, Mantan Atlet Maria Lawalata Berurusan dengan Polisi
Polisi merilis kasus dugaan penipuan Maria Lawalata. (Kadek Melda Luxiana/detikcom)
Jakarta -

Mantan atlet nasional Maria Lawalata harus berurusan dengan polisi setelah dilaporkan atas dugaan penipuan dan penggelapan. Maria Lawalata diduga menggelapkan uang Rp 150 juta lantaran terlilit utang.

Kapolres Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto menjelaskan, kasus itu awalnya dilaporkan oleh pelapor berinisial BI pada 2016. Saat itu Maria Lawalata mengajak BI--yang juga temannya--mengembangkan sekolah sepak bola (SSB).

"Karena beliau (Maria Lawalata) nggak punya dana, beliau bekerja sama dengan korban namanya Pak BI, kemudian sudah disepakati sejumlah uang di mana uang ini nanti dipergunakan untuk penyewaan lapangan di beberapa lokasi yang kaitannya dengan SSB tersebut," kata Budhi kepada wartawan, Senin (27/7/2020).

Namun kenyataannya, SSB itu tidak pernah ada. Tadinya, Maria mau mengembangkan SSB dengan menyewa lapangan di Cilincing, Jakut.

"Artinya ibu ini tidak menyewakan uang yang tadi disampaikan korban itu untuk menyewa lapangan sepak bola," katanya.

Selanjutnya pelapor mengadukan hal itu ke pihak kepolisian setelah jalan mediasi tidak menemukan titik temu. BI kemudian melaporkan Maria Lawalata atas dugaan penipuan dan penggelapan ke Polres Jakut pada 2017.

"Setelah kami menerima laporan tahun 2017 proses bergulir dan kami melakukan serangkaian proses penyelidikan dan penyidikan," katanya.

Dua tahun berlalu atau tepatnya Januari 2019, Polres Jakut menetapkan Maria Lawalata sebagai tersangka. Polisi saat itu tidak menahan Maria Lawalata dengan berbagai pertimbangan, salah satunya karena Maria Lawalata adalah mantan atlet yang sudah ikut mengharumkan nama bangsa.

"Yang kedua juga kebetulan Ibu Maria kebetulan istri dari anggota Polri alamat jelas dan sebagainya, sehingga pada saat itu kami tidak melakukan penahanan dan kami juga memberikan kesempatan kepada Ibu Maria untuk menyelesaikan permasalahannya dengan pihak korban," paparnya.

Berjalannya kasus hingga Mei 2020, pelapor menanyakan perkembangan kasusnya ke Polres Jakut. Polisi kemudian menggelar kembali kasus itu dan menuntaskan penyidikan dengan melakukan tahap I pelimpahan berkas perkara.

"Tinggal tahap duanya atau penyerahan tersangka dan barang bukti yang akan kita serahkan kepada pihak kejaksaan selaku penuntut umum," ucapnya.

Selama proses hukum di kepolisian, Maria Lawalata tidak pernah ditahan. Kemudian, atas permintaan pihak Kemenpora polisi kemudian melakukan mediasi antara Maria Lawalata dengan pelapor.

"Kemudian Pak BI, karena hak atau kerugian sudah dikembalikan oleh Bu Maria, beliau juga mencabut laporannya kepada kami dan tentunya saat ini Bu Maria status penangguhan penahanan, artinya sudah tidak dilakukan penahanan oleh kami. Namun demikian tentunya dengan adanya surat pencabutan yang diberikan oleh pihak korban, nantinya akan kami coba komunikasikan, koordinasikan," tuturnya.

"Karena prinsipnya adalah dalam penegakan hukum itu tujuannya ada 3 yaitu kepastian hukum, rasa keadilan dan kemanfaatan," cetusnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Jakut Kompol Wirdhanto Hadicaksono mengatakan, uang Rp 150 juta itu tidak pernah digunakan untuk membangun SSB, melainkan dipakai untuk membayar utang-utang lainnya.

"Itu untuk utang-utang yang lain, yang jelas ada kondisi ekonominya," kata Wirdhanto.

Dalam kesempatan yang sama, Maria berterima kasih kepada polisi yang memberikan keringanan hukum. Maria juga menyampaikan permohonan maafnya dan berterima kasih.

"Saya juga ucapkan makasih atas mediasi, bantuan ini dan bisa diselesaikan pada hari ini bersama Bapak Beni untuk secara kekeluargaan dan Saya makasih dan mohon maaf sebesar-besarnya untuk semua masyarakat yang tercinta telah men-support saya," kata Maria.

(mei/fjp)