CT Cerita Pengalaman Singapura Saat Atasi Pandemi Corona

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Minggu, 26 Jul 2020 20:47 WIB
Chairul Tanjung
Foto Chairul Tanjung: (Ari Saputra-detik)
Jakarta -

Founder & Chairman CT Corp, Chairul Tanjung (CT) menceritakan pengalaman Negara Singapura selama mengatasi pandemi Corona (COVID-19). CT mengakui keberhasilan Singapura dalam mengatasi Corona.

"Tapi yang paling penting menurut saya adalah bahwa karena Singapura itu negara kecil, memang penanganan dan kebetulan juga negara kaya negara berpendidikan, jadi penanganan COVID-nya itu menjadi lebih terkoordinasi lebih baik. Kita harus akui, kita mesti akui apa yang mereka lakukan," kata CT dalam Talkshow Virtual 'Menjaga Semangat, Membangun Asa, Indonesia Jaya Bersama Chairul Tanjung', Minggu (26/7/2020).

CT mengaku belajar banyak terkait penanganan COVID-19 dari Singapura. Dia kemudian bercerita mengenai pengalamannya saat itu tinggal di Singapura selama beberapa waktu saat awal-awal pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan di Jakarta.

"Saya kebetulan begitu dilakukan PSBB atau work from home, itu kebetulan kan anak saya yang paling kecil ada di Singapura lagi sekolah. Nah jadi karena work from home kebetulan istri saya juga ada di Singapura, ya sudah saya semua keluarga akhirnya kumpul di Singapura," ucapnya.

CT mengungkapkan saat awal pandemi Corona, Singapura pernah mencapai kasus konfirmasi positif Corona tertinggi se Asia Tenggara. Namun, Singapura juga mencatat angka kematian terendah di dunia. Hal ini membuktikan bahwa penanganan pasien COVID-19 di Singapura sangatlah baik.

"40 ribu terinfeksi (COVID-19), angka mereka itu pada waktu itu pada saat 40 ribu, kematian mereka hanya 25 orang. Jadi penanganan mereka itu sangat baik terhadap begitu orang terinfeksi penanganannya, dan mayoritasnya yang meninggal itu usia lanjut yang punya penyakit bawaan yang berat. Jadi bukan meninggalnya karena COVID, tapi karena punya jantung, punya cancer punya segala macam yang berat-berat," jelasnya.

Selanjutnya, CT menjelaskan bahwa mayoritas pasien yang terpapar COVID-19 di Singapura merupakan tenaga asing. Para tenaga asing ini diberikan fasilitas tersendiri oleh otoritas Singapura.

"Penanganan mereka terhadap tenaga kerja asing mereka yang di dormitory itu begitu baiknya, sehingga yang pertama mereka tidak sampai menginfeksi orang di luar dormitory. Jadi di dormitory mereka itu dibangun fasilitas kesehatan tersendiri. Jadi itu yang saya maksud dengan karantina. Jadi dengan begitu mereka tidak menginfeksi orang lain," ujarnya.

Selain itu, CT pun mengapresiasi penanganan ekonomi yang dilakukan negara Singapura. Saat Singapura menjalani pembatasan ekonomi atau Circuit Breaker, setiap warga Singapura berusia di atas 21 tahun tidak diperkenankan bekerja ke kantor namun otoritas setempat tetap menjamin kehidupannya.

"Selama masa pembatasan ekonomi itu, setiap warga negara mereka berusia 21 tahun ke atas mendapatkan dana 600 Singapura dollar kurang lebih Rp 6 juta per bulan. Itu ditransfer langsung ke rekening mereka sendiri, jadi orang-orang disuruh tidak bekerja, tetapi perlindungan sosialnya diberikan," ujarnya.

Selain itu, pemerintah Singapura pun melarang perusahaan melakukan pemutusan hak kerja (PHK) dan bersedia menanggung 74 persen gaji karyawan. Meskipun tidak bisa melakukan hal yang sama, CT berpesan agar Indonesia bisa mengambil hal baik dari Negara Singapura dalam menangani krisis pandemi Corona.

"Nah tentu kita nggak bisa lakukan hal yang sama. Tapi kalau menurut saya kalau kita bisa mengambil yang baik-baik lalu mencoba menerjemahkan kebijakan itu sesuai dengan kemampuan kita, barangkali itu akan menjadi pelajaran baik untuk kita," tutupnya.

(zap/zap)