Round-Up

Serangan-serangan Fahri Hamzah yang Kini Dirindukan Jokowi

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 23 Jul 2020 07:02 WIB
Mantan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menjadi pembicara dalam diskusi di MPR/DPR RI. Selain Fahri, ada sejumlah tokoh lain yang jadi pembicara di diskusi tersebut
Fahri Hamzah (Foto: Lamhot Aritonang)

3. Gubernur harus izin saat nyapres

Ketika menjelang Pilpres 2019, Jokowi meneken peraturan pemerintah tentang kepala daerah yang dijadikan calon presiden/wakil presiden harus meminta izin presiden. Ketika itu, Fahri menilai peraturan itu menunjukkan Jokowi bukan seorang negarawan.

"Itu yang menandakan kalau Jokowi itu bukan negarawan. Dia politisi blek, blek," ujar Fahri di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu, 25 Juli 2018.

Fahri berpendapat penandatanganan peraturan itu sangat tidak etis dilakukan Jokowi. Sebab, Jokowi terkesan membuat peraturan yang memudahkan dia bertarung pada pilpres mendatang.

"Tidak etis kalo dia buat aturan buat pilpres yang akan datang. Saya bisa mengerti kalau dia buat peraturan yang akan datang dia kan tidak bertanding lagi, kalau dia bikin peraturan untuk dia sendiri sama saja kayak wasit ikut nendang bolanya," kata Fahri kala itu.

Fahri yakin ditekennya PP No 32 Tahun 2018 tentang tata cara cuti atau mengundurkan diri penyelenggara negara itu akan menimbulkan berbagai tuduhan dari masyarakat. Terutama tuduhan adanya upaya penjegalan bagi capres lain.

4. Fahri Hamzah kritik soal pembangunan tol-bandara

Fahri Hamzah juga pernah mengkritik pembangunan tol dan bandara yang dimasifkan pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wapres Jusuf Kalla. Dia menilai Jokowi mengabaikan pembangunan 5.00 puskesmas yang sudah dijanjikan demi membangun tol.

"Gara-gara kita membangun tol itu, kita mengorbankan 5.000 puskesmas yang sudah dijanjikan Pak Jokowi dan semua janji lainnya yang begitu banyak, termasuk buyback Indosat dan sebagainya, itu supaya kita mengontrol industri seluler kita. Nggak dilakukan," ujar Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 26 Juni 2018.

"Mengapa? Karena uangnya habis untuk di tempat lain. (Di tol) ya kayak gitu-gitulah," imbuh Fahri.

Menurut Fahri, jalan tol tak dekat dengan rakyat kecil. Pembangunan jalan tol dianggap Fahri hanya menyenangkan orang-orang kaya.

"Tol itu untuk mobil, yang naik mobil orang kaya. Berapa sih tambahan bus gara-gara orang bangun tol? Nggak banyak. Yang jelas, orang kaya tambah enak karena pakai tol, pakai mobil pribadi, jadi ke mana-mana, kan. Bikin macet. Sudah begitu, bensinnya subsidi lagi. Ngebakar mobil subsidi, mensubsidi orang kaya. Kira-kira begitu," beber Fahri.