Apresiasi Menteri Edhy untuk Penjaga Laut Pemberani

Mega Putra Ratya - detikNews
Kamis, 23 Jul 2020 01:10 WIB
Menteri KKP Edhy Prabowo
Foto: dok KKP
Jakarta -

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo memberikan penghargaan kepada nakhoda Kapal Pengawas Orca 3 dan Hiu 11, Capt. Muhammad Ma'ruf dan Mohammad Slamet, yang berhasil menangkap dua kapal Vietnam pencuri ikan di Natuna Utara.

Edhy bahkan memberikan hadiah kejutan kepada dua awak kapal pemberani yang melompat ke kapal untuk melumpuhkan para pencuri ikan, Muhammad Nur Afliq dan Riko Putra, sesaat sebelum meninggalkan Stasiun PSDKP Pontianak, sebelum bertolak ke Jakarta.

"Ini tolong dibagi dua ya," ujar Menteri Edhy sambil memberikan paket berbalut plastik hitam kepada Riko, lalu beranjak menuju kapal. Menteri Edhy meninggalkan Stasiun PSDKP menggunakan speedboat menuju dermaga Kartika Pontianak.

Menyoal apresiasi yang diberikan Menteri Edhy kepada awak kapal pengawas, Riko dan Afliq mengaku penghargaan itu bukan menjadi tujuan mereka. Sebab menjaga setiap jengkal laut dari tangan-tangan pelaku illegal fishing merupakan tugas dan kewajiban yang sudah melekat di pundaknya.

Perihal risiko yang kerap dihadapi awak kapal pengawas saat melakukan pengejaran dan penangkapan kapal pencuri ikan, menurut Afliq, hal tersebut sudah diperhitungkan secara matang. Seperti saat dia dan Riko yang terpaksa melompat ke kapal Vietnam untuk melumpuhkan para pelaku.

"Itu SOP-nya memang seperti itu. Kita mengikuti arahan dari komandan. Jadi untuk kita selamat kita harus saling koordinasi. Itu saja," beber Afliq.

Kendati demikian, dia tidak menampik jika ada pihak-pihak yang menyebut awak kapal pengawas terkadang bersikap nekat saat melumpuhkan kapal pencuri ikan di tengah lautan.

"Kalau disebut nekat karena memanng ada peluang dan komando sudah ada. Kita mengikuti arahan dari komandan," tegasnya.

Seperti terjadi saat penyergapan kapal Vietnam di perairan Natuna Utara oleh kapal Hiu 11, kata Afliq, pihaknya telah melakukan kejar-kejaran selama sekitar dua jam. Tim juga telah mengikuti prosedur tetap seperti tembakan peringatan ke udara, tetapi kapal asing tetap bermanuver.

"Lalu instruksi dari komandan, kita harus mengatur strategi lagi. Makanya kita melompat itu untuk bisa melumpuhkan mereka yang lari. Kita juga beberapa kali melempar tali untuk mengejar merka tapi tidak berhasil. Makanya keputusan terakhir kita sergap dan lompat ke kapal," Riko menambahkan.

(ega/mpr)