PSTA-LAPAN Prediksi Cuaca Ekstrem di Sulawesi Terjadi Lagi di September

Yudha Maulana - detikNews
Minggu, 19 Jul 2020 07:42 WIB
Pulau Miangas yang berada langsung di bibir Samudera Pasifik sering dilanda cuaca ekstrem. Akibatnya nelayan tidak bisa melaut dan warga terancam krisis pangan.
Foto: Ilustrasi (Muhammad Ridho-detikcom).
Bandung -

Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer-Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (PSTA-LAPAN) membuat Kajian awal musim wilayah Indonesia Jangka Madya (KAMAJAYA) di Sulawesi. Dari hasil kajian, warga Sulawesi masih harus waspada terhadap potensi kejadian ekstrem hingga pertengahan Juli, dan akan terjadi lagi di September.

Hasil kajian itu diungkapkan, Peneliti Klimatologi LAPAN Erma Yulihastin yang tergabung dalam Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan PSTA-LAPAN. Menurutnya, kondisi ekstrem pada pertengahan Juli, wilayah Sulawesi akan lebih kering pada Agustus nanti.

"Prediksi musim KAMAJAYA-LAPAN menunjukkan Sulawesi masih harus waspada terhadap potensi kejadian ekstrem hingga pertengahan Juli. Pada Agustus wilayah Sulawesi akan lebih kering namun kembali basah yang berpotensi ekstrem pada bulan September 2020," ungkap Erma kepada detikcom, Sabtu (18/7/2020).

Sebelumnya, terjadi banjir bandang di Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada 13 Juli 2020 kemarin. Kejadian itu didahului hujan yang turun secara terus-menerus (persisten) sehari sebelumnya sejak siang hingga esok paginya. Hingga Jumat (18/7), sedikitnya 35 orang meninggal dunia dan 68 lainnya dinyatakan hilang.

"Berdasarkan prediksi cuaca Satellite-Based Disaster Early Warning System (SADEWA)-LAPAN, hujan yang turun secara persisten itu terkonsentrasi di sekitar Teluk Bone. Penguatan monsun timuran yang mentranspor kelembapan terjadi karena penghangatan suhu permukaan laut di Teluk Bone dan pembentukan sirkulasi tekanan rendah di Selat Makassar," kata Erma.

Tim TREAK PSTA-LAPAN yang juga terdiri dari Wendi Harjupa (Koordinator TREAK), Eddy Hermawan (Profesor meteorologi LAPAN) dan peneliti lainnya, menemukan kaitan bentuk geografis garis pantai yang cekung, dalam perannya mengonsentrasikan hujan diurnal di sekitar Teluk Bone (Luwu).

Hujan yang terus menerus (persisten) selama musim kemarau di Sulawesi Selatan pada pertengahan tahun juga, kata Erma menunjukkan anomali musim yang disebut dengan kemarau basah.

"Kemarau basah pada tahun ini dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama, fenomena daerah pertemuan massa udara antartropis atau yang dikenal Intertropical Convergence Zone (ITCZ) ganda yang sering terbentuk sejak bulan Mei hingga Juli, kedua, aktivitas gelombang atmosfer yang menjalar dari utara ke selatan yang berkaitan dengan aktivitas musim panas bernama Boreal Summer Intra-seasonal Oscillation (BSISO) di Samudra Hindia pada 12-13 Juli yang memengaruhi pembentukan konvergensi luas yang memanjang dari Samudra Hindia hingga wilayah Sulawesi," kata Erma.

"Ketiga, pemanasan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia yang terkonsentrasi di Laut Maluku, Arafuru, dan Teluk Bone," pungkas Erma.

Tonton juga video 'Waspada! Cuaca Ekstrem Masih Bisa Terjadi Hingga Maret':

(yum/nvl)