Kajari Toba Polisikan Cucunya Terkait Duit Rp 600 Juta, Terlapor Heran

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 16 Jul 2020 18:16 WIB
Ilustrasi Penipuan
Foto: Ilustrasi penggelapan (Mindra Purnomo)
Medan -

Kajari Toba Robinson Sitorus melaporkan cucunya Jojor Br Sitorus atas kasus dugaan penggelapan uang senilai Rp 600 juta. Pihak terlapor pun mengaku heran soal laporan ini.

Keheranan itu disampaikan kuasa hukum terlapor, Roni Prima Panggabean dan Jhon Feryanto Sipayung. Roni mengungkap laporan dari Robinson terhadap kliennya itu bernomor LP/608/VI/2020/SU/POLRESTABES MEDAN/SEK MDN BARU tanggal 5 Juni 2020. Kasus ini kemudian diambilalih oleh Ditreskrimum Polda Sumut.

"Jadi saat ini yang menangani adalah Polda Sumut. Kemarin, Senin (13/7), klien kami baru memenuhi panggilan untuk melakukan klarifikasi," kata Roni kepada wartawan, Rabu (15/7/2020).

Kasus ini, katanya, bermula dari keinginan pelapor menitipkan uang sekitar Rp 1,5 miliar. Uang tersebut, kata Roni, diminta disimpan menggunakan nama terlapor senilai Rp 600 juta, dan Rp 900 juta memakai nama ibu terlapor.

"Laporan ini bermula dari keinginan pelapor yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Toba untuk menitipkan uangnya sekitar atau kurang lebih Rp 1,5 miliar," ucap Roni.

Singkat cerita, uang Rp 600 juta itu disebut Roni diminta pelapor untuk dikembalikan lewat transfer ke rekening milik orang lain. Terlapor, katanya, telah mengembalikan uang tersebut sekitar bulan November 2019 ke nomor rekening yang diperintahkan pelapor.

"Jadi yang diperkarakan itu yang Rp 600 juta. Namun itu juga sudah dikembalikan, tapi kenapa malah kasusnya bisa diterima polisi," sebutnya.

Roni kemudian menuding ada beberapa kejanggalan dalam laporan tersebut. Dia mencatat setidaknya terdapat beberapa poin dianggap terjadi kecacatan hukum dalam upaya polisi melakukan pengungkapan.

"Yang pertama pada surat panggilan terlapor untuk klarifikasi pemanggilan pertama diterima satu hari sebelum jadwal klarifikasi," sebut Roni.

Roni juga menuturkan pelapor tidak cukup bukti menuduh kliennya melakukan penipuan atau penggelapan. Alasannya, hal yang dilaporkan hanya berdasar bukti tulisan tangan di atas kertas selembar berlogo kop surat kejaksaan.

"Dan tulisan tersebut bukan merupakan tulisan dari klien saya yang telah kita sampaikan pada klarifikasi hari ini tanggal 13 juli 2020," sebut Roni.

Selanjutnya
Halaman
1 2