Al-Ta'lim Al-Muta'allim (26)

Epistimologi Musa

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Rabu, 15 Jul 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/Nasaruddin Umar
Jakarta -

Dalam surah Al-Kahfi Allah Swt menceritakan dua figur menarik sekaligus mewakili dua sudut pandang epistimologi yang berbeda, yaitu kisah antara Nabi Musa dan Khidhir. Nabi Musa sosok intelektualis yang sangat idealis dan perfect. Upayanya di dalam mencari kebenaran bertekad tidak akan berhenti sebelum menemukan target yang dicari. Target itu ialah pertemuan dua laut (majma' al-bahrain) sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Kahfi/18:60 (lihat artikel terdahulu). Sayang sekali para ulama tafsir kita menafsirkannya dengan pertemuan antara laut Persia di timur dan laut Romawi di barat. Padahal menurut kalangan mufassir sufistik (isyari), pertemuan dua laut itu ialah lautan keilmuan, karena bahasa Arab Al-Quran sering menggunakan bahasa konotasi di dalam mengungkap sesuatu yang istimewa. Yang dimaksud dalam ayat itu sebenarnya ialah kombinasi antara epistimologi keilmuan dan epistimologi makrifah.

Figur Musa terlalu mengedepankan jalur logika. Apa saja mau dipertanyakan secara logika, sampai kepada wujud Tuhan pun akan diinderanya. Lihat misalnya ketika Nabi Musa diminta Tuhan belajar kepada seorang hamba-Nya yang arif (17:65), persyaratan sang guru tinggalkan logikanya dengan jalan mengendalikan nafsu intelektualnya dengan cara bersabar, jika anda menginginkan ilmu yang lebih tinggi (17:67). Nabi Musa berusaha untuk bersabar tetapi ternyata tradisi berfikir kritisnya sulit dikendalikan, sehingga ia mendapatkan peringatan pertama, ketika Nabi Musa harus menyaksikan perahu-perahu nelayan yang tak berdosa
dibocorkan satu persatu.

Akhirnya Nabi Musa minta maaf kepada gurunya, tetapi kejadian kedua Nabi Musa masih belum bisa membersihkan diri dari sikap kritis yang sudah tertancap di dalam benaknya. Ia masih mempertanyakan, kenapa anak kecil yang tak berdosa harus dibunuh. Gurunya memberikan peringatan kedua dan Nabi Musa pun secara tulus memohon maaf atas kelancangannya merusak janjinya.

Peristiwa selanjutnya, Nabi Musa sudah mulai pasrah memugar sebuah reruntuhan bangunan tua selama berhari-hari tanpa kenal lelah. Nabi Musa berharap dengan selesainya bangunan ini ia akan diajar lebih intensif di dalamnya. Alangkah kagetnya Nabi Musa setelah bangunan selesai dipugar, sang guru minta agar melanjutkan perjalanan entah ke mana dan meninggalkan bangunan baru itu. Nabi Musa kembali bertanya, untuk apa menghabiskan waktu dan tenaga sekian lama membangun bangunan ini terus ditinggalkan begitu saja. Akhirnya Nabi Musa mendapatkan peringatan ketiga dan terakhir. Ternyata engkau memang belum pantas menjadi murid saya. Kali ini Nabi Musa juga tidak meminta maaf lagi. Ia pasrah dan siap untuk gagal menjadi murid.

Sebelum perpisahan, sang Guru (Khidhir) menjelaskan karena ini pertemuan terakhir kita maka saya akan jelaskan semua kegelisahan anda. Perahu-perahu nelayan miskin sengaja dilubangi karena keesokan harinya raja setempat akan berpesta di laut dan semua perahu laik pakai akan dirampas dari pemiliknya. Dengan melubangi sedikit maka perahu itu ditinggalkan pasukan raja. Para nelayan masih bisa memperbaiki kembali perahunya. Anak itu dibunuh karena kelak jika dewasa menjadi racun masyarakat, termasuk mengkafirkan kedua orangtuanya, dan bangunan ini dipugar karena di bawahnya ada harta karun besar sedangkan ahli waris harta ini masih bayi. Kelak jika sudah dewasa mereka akan mendayagunakan harta karun ini dengan baik. Nabi Musa hanya bisa tercengang, ternyata di atas langit masih ada langit.

(nwy/nwy)