Positivity Rate DKI 10,5%, PAN: Kalau Penyebaran Naik, Harus Berani Tutup Lagi

Muhammad Ilman Nafi - detikNews
Selasa, 14 Jul 2020 15:34 WIB
Zita Anjani
Foto: Instagram @zitaanjani
Jakarta -

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PAN Zita Anjani mengatakan semua pihak harus berani mengambil sikap untuk kembali melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tanpa transisi. Hal itu menyusul dengan perkembangan rasio jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 atau positivity rate di DKI Jakarta sempat mencapai 10,5 persen pada Minggu (12/7).

Zita mengatakan PAN juga mendukung rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan rem darurat atau emergency break. Rem darurat itu dilakukan apabila kasus Corona di DKI terus melonjak.

"Ya, kami percayakan kepada Pak Anies. Hari ini, kita harus percaya dengan semua kebijakan yang basisnya data. Kalau jumlah penyebaran naik, kita harus berani untuk tutup lagi, namanya juga transisi. Mengutip statement dari Pak Gubernur 'emergency break'," ujar Zita saat dihubungi, Selasa (14/7/2020).

Menurutnya, Pemprov DKI harus bisa mengatur ritme untuk membuka-tutup daerah dengan bijak. Hal itu perlu dilakukan apabila lonjakan kasus positif tinggi.

"Jadi bukan sesuatu yang baru, tinggal kita harus bisa mengatur ritme kebijakan buka tutup daerah ini dengan bijak. Ketika positif tinggi, kita batasi, bahkan emergency break," katanya.

Zita mengatakan, di masa pandemi ini diharapkan semua pihak memiliki pemikiran dan kebijakan yang pro-inovasi. Dia berharap inovasi itu terus meningkat di zaman yang terus berkembang.

"Perlu dipahami dan diterima bersama kita hidup di zaman atau era COVID. Jadi kebijakan-kebijakan yang diambil harus pro-inovasi. Jangan sampai kita tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, justru malah mundur. Contoh, jangan sampai tempat hiburan dibuka eh sekolah tidak jelas. Ini namanya kemunduran pola berpikir. Kita harus mulai berpikir bagaimana generasi Indonesia bisa menciptakan vaksin, bukan malah sibuk menunggu negara lain menciptakan vaksin," ucapnya.

Sebelumnya, perkembangan rasio jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 atau positivity rate di DKI Jakarta sempat mencapai 10,5 persen pada Minggu (12/7). Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) DKI Jakarta Widyastuti mengatakan kenaikan tersebut terjadi karena pihaknya gencar melakukan active case finding atau mencari kasus baru.


"Kita kan selalu berkombinasi dalam rangka meningkatkan kapasitas testing. Penemuannya ada beberapa strategi. Pertama, melalui kunjungan yang datang ke rumah sakit secara passive case finding, menunggu kasus bergejala datang ke rumah sakit; yang kedua, dari kasus positif rumah sakit yang lakukan contact tracing, kemudian turun ke lapangan, cari kasus COVID dari kasus confirmed (di rumah sakit); yang ketiga, active case finding," ujar Widyastuti di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/7).

Widyastuti mengatakan, untuk kasus COVID-19 di Jakarta hari ini, positivity rate-nya sudah menurun menjadi 9,8 persen. Menurutnya, angka naik-turunnya positivity rate itu dapat dihitung per periode, misalnya per minggu atau per hari.

"Positivity rate kan bisa dihitung tergantung apakah kita kurun waktu penilaiannya per mingguan atau harian. Kalau per harian kemarin kita 10,5 persen, hari ini sudah menjadi 9,8 persen," ucapnya.

"Positivity rate adalah persentase kasus positif dibanding total kasus yang diperiksa. Jadi kita menghitungnya tergantung dari sisi yang mana. Kalau mau lihat tren harian bisa," sambungnya.

Widyastuti menyebut, dalam beberapa minggu terakhir, positivity rate di DKI sempat berada di angka 5,5 persen. Meski demikian, Widyastuti mengakui angka tersebut masih di bawah anjuran WHO yang menyebut wilayah aman dari Corona itu jumlah positivity rate-nya di bawah 5 persen.

"Tapi, dalam penilaian sesuai gugus tugas nasional itu sekitar seminggu-dua minggu terakhir kita sudah 5,5 persen. Itu kita variasi ya. WHO menargetkan positivity rate di bawah 5 persen," katanya.

(hri/hri)