Anggota MPR Bicara Pentingnya Pelajaran PMP Masa Orde Baru

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Senin, 13 Jul 2020 18:07 WIB
Saifullah Tamliha
Foto: MPR
Jakarta -

Anggota MPR Fraksi PPP, Saifullah Tamliha, menyebut dihilangkannya mata pelajaran PMP di sekolah hingga kuliah membuat bangsa ini kehilangan ruh kebangsaan. Menurutnya, itu karena semua produk atau kebijakan yang dikeluarkan Orde Baru dianggap tidak baik dan hilang sejak reformasi.

"Tidak hadirnya PMP dalam dunia pendidikan membuat bangsa ini kehilangan ruh kebangsaan. Hilang selama reformasi berlangsung," ujarnya politisi asal Kalimantan Selatan tersebut dalam keterangannya, Senin (13/7/2020).

Hal tersebut diungkapkannya saat menjadi pembicara dalam 'Diskusi Empat Pilar MPR' bertema 'Membentuk Karakter Bangsa: Pancasila Masuk Kurikulum Pendidikan?' di Media Center, Gedung Nusantara III, Komplek Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta.


Ia menceritakan ketika dirinya sekolah kerap menjadi juara dalam lomba cerdas cermat dan pidato tentang Pancasila. Namun, hal tersebut dihilangkan sejak mulai era reformasi. Diungkapkannya, saat MPR di bawah kepemimpinan Taufik Kiemas, Pancasila kembali disosialisasikan lewat Sosialisasi 4 Pilar MPR. Selama menjadi anggota MPR, ia menceritakan kerap melakukan sosialisasi Pancasila.

Ia mengatakan warga negara harus memiliki ruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu dirinya menyebut sangat baik apabila anak-anak sekolah diberi materi ideologi kebangsaan. Kehampaan materi ideologi di sekolah perlu diisi dan memberi materi Pancasila sejak kecil dikatakan sangat penting karena pada masa itu materinya mudah masuk ke dalam jiwa anak bangsa.

"Jadi Pancasila perlu masuk dunia pendidikan. Masuknya Pancasila dalam dunia pendidikan merupakan koreksi total dari era reformasi," ujar dia.

Menurut Saifullah, saat ini sosialisasi Pancasila tidak cukup hanya dilakukan oleh MPR dan BPIP, tetapi juga dapat melibatkan guru. Ia yakin bila nilai-nilai Pancasila hidup dalam benak masyarakat Indonesia, akan membuat Indonesia maju dan tidak ada koruptor.


Hal senada disampaikan anggota MPR dari Fraksi PDIP M. Nabil Haroen. Gus Nabil, sapaan akrabnya, mengatakan selama ini Pancasila hanya menjadi narasi dan masih miskin implementasi. Hal demikian bila dibiarkan akan membahayakan.
Sama dengan Saifullah Tamliha, dirinya juga pernah merasakan hidup semasa Orde Baru sehingga merasakan pendidikan Pancasila di sekolah. Menurut Gus Nabil, seharusnya bangsa ini menjaga hal-hal yang baik. Malahan, kata dia, banyak negara yang ingin mengadopsi nilai-nilai Pancasila.

"Dulu PMP baik dan seharusnya dipertahankan. Pancasila tak hanya perlu masuk dalam kurikulum pendidikan namun juga perlu masuk dalam sendi-sendi kehidupan bangsa dan bernegara. Mari kita kawal dan implementasikan Pancasila," pungkasnya.

(mul/mpr)