Menteri LHK Cek Adaptasi Taman Wisata Alam Dieng di Masa Transisi

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Minggu, 12 Jul 2020 19:41 WIB
KLHK
Foto: KLHK
Jakarta -

Menteri LHK Siti Nurbaya melakukan kunjungan kerja ke taman wisata alam yang ada di Wonosobo, Jawa Tengah. Ini dilakukan untuk mengevaluasi kawasan wisata alam yang sedang menyesuaikan dan adaptasi di masa COVID-19.

Siti mengatakan sesuai pesan Presiden Joko Widodo bahwa penanganan pemulihan lingkungan sangat penting. Demikian pula pemanfaatan berbagai lokasi di Pulau Jawa dengan sangat banyak pemandangan yang indah dan aksesibilitas jalan yang bagus untuk menjadi produktif membantu masyarakat.

Kombinasi kerja hutan sosial, produktivitas masyarakat dengan ekowisata dan industri kayu putih hutan sosial menjadi langkah yang positif. Sejalan dengan itu, upaya pemulihan lingkungan dengan rehabilitasi lahan terus dilakukan.

"Cara penanganan atau pengelolaan spot-spot wisata seperti Telaga Warna maupun Telaga Pengilon, menjadi referensi bagi spot-spot wisata yang lain. Keberadaan ekowisata seperti ini harus disertai peningkatan produktivitas untuk masyarakat sekitarnya," kata Siti dalam keterangan tertulis, Minggu (12/7/2020).

Hal itu disampaikannya saat berada di Taman Wisata Alam (TWA) Telaga Warna dan Telaga Pengilon, Dieng. Sebagai informasi, TWA Telaga Warna dan Telaga Pengilon merupakan salah satu dari 29 kawasan wisata alam yang dibuka lebih dulu dalam masa transisi COVID-19.

Dijelaskan Siti, pembukaan kawasan wisata alam ini untuk memberikan stimulan aktivitas wisata lain di Indonesia. Hal ini juga penting agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas produktif.

"Saya meminta Dirjen KSDAE untuk melaporkan setiap hari perkembangan 29 spot kawasan wisata alam ini, khususnya kaitan dengan naik turunnya angka sebaran COVID-19," tutur Siti.

Kata Siti, harus ada kehati-hatian dan penerapan protokol COVID-19 di wisata alam. Ia juga mencatat ada beberapa hal yang perlu dikembangkan lagi dari TWA Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang berada di wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah ini.

"Saya perintahkan Dirjen KSDAE agar melakukan pengecekan kembali secara keseluruhan. Di antaranya redesain infrastrukturnya agar tidak terlalu banyak bangunan fisiknya, dan lebih menonjolkan lanskapnya," ucapnya.

Selain itu, setelah berdiskusi bersama Sekda Kabupaten Wonosobo, Siti mengatakan keterlibatan pemerintah desa dan kecamatan perlu ditingkatkan, begitu juga dengan masyarakat tani. Masukan dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jateng itu untuk mendorong kemungkinan penambahan penanaman varietas baru di kawasan tersebut. HKTI Jateng juga meminta agar diadakan vokasi training untuk level sekolah menengah mengenai teknis pengolahan kayu dan bambu.

"Saya juga mendapat laporan adanya masalah sampah. Selain itu, saya titip untuk teknik terasering di kawasan Dieng perlu diperbaiki untuk mencegah longsor dan erosi. Kita cari cara mengatasinya dengan kegiatan CSR untuk rehabilitasi dan bangunan konservasi tanah dan air," tuturnya.

Lebih lanjut Siti menjelaskan fungsi alam hutan selain menjaga sistem pendukung kehidupan, juga memiliki fungsi media, bahan produksi, informasi, hingga spiritual healing. "Berada di tengah hutan bisa menjadi forest healing. Misalnya di Jawa Timur, bahkan ada yang menjadi spot-spot untuk ibadah," terang Siti.

Sebagai informasi, BKSDA Jateng mengelola 27 Cagar Alam, 1 Suaka Marga Satwa, dan 5 Taman Wisata Alam, termasuk TWA Telaga Warna dan Telaga Pengilon.

Sementara itu, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno menjelaskan situasi wisata di sini tergantung pada keamanan kandungan karbondioksida dan sulfur (belerang) yang ada. Hal tersebut dipantau secara intensif setiap bulan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Keberadaan TWA Telaga Warna dan Telaga Pengilon ini mampu menggerakkan ekonomi lokal di sekitar Dieng," kata Wiratno.

Saat hari biasa dalam kondisi normal, kata Wiratno, rata-rata pengunjung setiap tahunnya 425 ribu orang dan menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 3 miliar.

Dalam rangkaian kunjungan kerjanya, Siti juga meninjau beberapa titik kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dan pembuatan bangunan KTA dengan mekanisme padat karya. Kegiatan yang ditinjau meliputi bangunan gully plug atau dam penahan kecil-kecil di lahan masyarakat.

Lalu penanaman dan pemeliharaan tanaman pokok Bintamin, Accacia decurens, dikombinasi tanaman HHBK berupa macadamia, dan tanaman semusim carica (pepaya yang tumbuh di dataran tinggi) dan terong belanda, serta rumput vetiver, di kawasan hutan lindung bersisian dengan lahan masyarakat, dengan landscape terjal dan dissected.

Pada kunjungan kerja tersebut, Siti didampingi Wakil Menteri LHK Alue Dohong, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno, Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Agus Justianto, Staf Khusus Menteri Bidang Konstitusional Masyarakat dan Kemitraan Kelik Wirawan, Kepala Biro Humas, Direktur PJLHK, Direktur Perhutanan Sosial Perum Perhutani, dan Kepala UPT KLHK Jawa Tengah.

(akn/ega)