PAN soal Diksi New Normal Diganti: Seolah-olah Sudah Normal

Farih Maulana Sidik - detikNews
Minggu, 12 Jul 2020 08:15 WIB
Yandri Susanto (Zhacky/detikcom)
Foto: Yandri Susanto (Zhacky/detikcom)

Yandri mengatakan kurva kasus positif Corona di Indonesia masih terus naik dan tidak tahu kapan akan berakhir. Untuk itu, kata dia, segala pesan dari pemerintah harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh seluruh masyarakat agar tidak terjadi persoalan baru.

"Jadi cari bahasa yang gampang dipahami dan itu bisa dipahami masyarakat apa maunya pemerintah gitu loh. Jangan sampai pemerintah menyampaikan new normal, di masyarakat sudah normal. Jangan sampai nanti dengan bahasa adaptasi ya menurut masyarakat situasi sudah biasa-biasa saja, karena ini akan menjadi persoalan baru," katanya.

Sebelumnya diberitakan, juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona (COVID-19), dr Achmad Yurianto, mengungkapkan ada diksi yang salah di kata 'new normal'. Dia menilai diksi yang benar adalah adaptasi kebiasaan baru.

"Diksi new normal itu sebenarnya di awal diksi itu segera kita ubah, waktu social distancing itu diksi yang salah, dikritik langsung kita ubah, new normal itu diksi yang salah, kemudian kita ubah adaptasi kebiasaan baru tapi echo-nya nggak pernah berhenti, bahkan di-amplify ke mana-mana, gaung tentang new normal itu ke mana-mana," ujar Yuri di launching buku 'Menghadang Corona' di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (10/7).

Kenapa pemerintah mengganti kata new normal? Sebab, kata Yuri, jika tagline new normal dipakai, maka masyarakat akan fokus ke kata 'normal'-nya saja. Tidak pada 'new' atau pembaruannya.

"Kemudian yang dikedepankan bukan new-nya malah normalnya. New-nya itu jalan nggak tahu echo-nya, jadi belakangan, tok normal, ini yang nggak... Padahal ini sudah kita perbaiki, dengan adaptasi kebiasaan baru," jelas Yuri.

Halaman

(fas/rfs)