Anggota DPR Fraksi NasDem Bandingkan Penanganan Flu Burung dengan Corona

Wilda Nufus - detikNews
Jumat, 10 Jul 2020 13:47 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Anggota DPR RI Fraksi NasDem Muhammad Farhan membandingkan kondisi saat penanganan virus flu burung dengan virus Corona. Menurutnya, kondisi saat penanganan wabah flu burung lebih baik dibandingkan kondisi saat wabah Corona.

"Seperti yang juga kita rasakan bahwa flu burung itu waktu itu berhasil dimengerti dengan bahasa masyarakat karena waktu itu pun media yang mempengaruhi pola pikir dan persepsi masyarakat jauh lebih sederhana tidak ada media sosial dan perluasan pemakaian internet yang mempengaruhi keputusan orang," ucap Farhan melalui siaran langsung dari kanal YouTube BNPB, Jumat (10/7/2020).

Farhan yang merupakan Duta Tanggap Flu Burung 2006 - 2009, menyebut masyarakat terpengaruh oleh informasi kurang akurat yang berasal dari media sosial. Sehingga, tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah kurang.

"Karena bahayanya sekarang itu adalah berbeda dengan tingkat kepercayaan publik kepada media ini, percaya pada apa kata grup sebelah dari pada apa kata media yang menayangkan, apalagi apa kata pemerintah," ucap Farhan.

Sementara itu, Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan periode 2004-2009 I Nyoman Kandun mengungkapkan komunikasi risiko pada saat itu sangat berjalan kepada masyarakat. Hal itu diupayakan untuk menekan agar virus flu burung tidak menyebar dan menjadi wabah di Indonesia.

"Sudah dikatakan risk communication itu penting ya kalau flu burung itu kan dulu 6 fase ya kita baru fase 3 dikhawatirkan akan terjadi pandemi, belum terjadi, karena sebetulnya itu kan dari animal to human, seperti kasus di DKI Jakarta Gubernur Sutiyoso waktu itu mengeluarkan aturan tidak boleh ada pemeliharaan ayam dan semua patuh sehingga kasus turun ya kira-kira begitu tidak jadi itu kan masih animal to human," ujarnya.

Nyoman mengatakan virus flu burung yang berasal dari hewan tersebut tidak bisa menyesuaikan dengan manusia. Karena itulah, kasus flu burung berhenti di Indonesia pada 2017 akhir dengan jumlah kematian 168 orang.

"Yang kita khawatirkan nanti adalah human to human itu belum terjadi dengan case fatality yang tinggi mungkin virusnya belum sempat dia menyesuaikan diri untuk jadi human to human selesai 200 kasus dan 168 kematian sampai 2017 terakhir," katanya.

Tonton video 'Tinjau Penanganan Corona, WHO Bentuk Panel Independen':

(aik/aik)