ADVERTISEMENT

Ma'ruf: Bangun Peradaban Islam dengan Berpikir Moderat-Dinamis, Tidak Ekstrem

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 08 Jul 2020 15:28 WIB
Wapres Maruf Amin
Wapres Ma'ruf Amin (Foto: dok. Setwapres)

Selain itu, Ma'ruf mengatakan ada pemikiran yang melenceng ke kiri, yaitu mereka yang cenderung mengabaikan prinsip-prinsip keagamaan dan melakukan penafsiran kitab tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan ulama.

"Ciri-cirinya antara lain keyakinan bahwa nash merupakan teks terbuka yang bisa didekati dengan cara dan metode apa pun, tidak harus dengan cara dan metode tertentu sebagaimana yang telah diformulasikan oleh para ulama," ucapnya.

"Kelompok ini juga terlalu berlebihan dalam mengedepankan kemaslahatan dalam penafsiran terhadap nash. Bagi mereka, pemahaman terhadap nash harus diselaraskan dengan kemaslahatan umum sehingga, apabila nash tidak sesuai dengan al-mashlahah, pemahaman terhadap nash harus diubah disesuaikan dengan kepentingan maslahah," lanjutnya.

Dengan demikian, Ma'ruf mengatakan cara membangun peradaban Islam adalah dengan berpikir wasaty, yakni cara berpikir yang moderat, dinamis, dan tidak ekstrem.

"Oleh karena itu, upaya membangun kembali peradaban Islam adalah dengan mengembalikan cara berpikir wasaty, yaitu cara berpikir yang moderat, dinamis, manhajy, dan tidak ekstrem. Cara berpikir wasaty ini merupakan jalan lurus yang senantiasa kita minta dalam setiap salat. Bukan jalan yang melenceng ke kanan ataupun jalan yang melenceng ke kiri," jelasnya.

Ma'ruf kembali menegaskan masjid adalah tempat potensial untuk membangun peradaban Islam, sehingga di meminta pengurus masjid memberikan seluruh kebutuhan jemaahnya.

"Secara teoritis, masjid sangat potensial menjadi basis pembangunan peradaban Islam. Masjid dibangun di suatu kawasan yang di sekitarnya merupakan komunitas muslim. Pengaruh masjid harusnya bisa menjangkau setiap jengkal teritori di kawasan tersebut dan setiap kebutuhan jemaahnya," katanya.


(lir/knv)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT