Reshuffle Kabinet Direm Mendadak, Apa Maksud Jokowi?

Elza Astari Retaduari - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 17:45 WIB
Mensesneg Pratikno mengumumkan Menhub Budi Karya Sumadi positif COVID-19
Presiden Jokowi (Foto: dok. Antara Foto)
Jakarta -

Isu yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo soal reshuffle kabinet direm mendadak oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno. Apa maksud Jokowi mengeluarkan wacana reshuffle di tengah pandemi tapi langsung direm sebelum perombakan kabinet terjadi?

Wacana soal reshuffle sebenarnya muncul dari pernyataan Jokowi sendiri. Dalam sidang dengan jajaran Kabinet Indonesia Maju pada 18 Juni 2020, Jokowi tampak marah karena penanganan pandemi virus Corona (COVID-19) yang masih jauh dari harapannya.

Saat itu, Jokowi mengeluarkan ancaman akan melakukan reshuffle kepada menteri yang dianggap kurang mumpuni. Hanya, video 'kemarahan' Jokowi itu baru dibuka ke publik pada 28 Juni lalu.

"Sekali lagi, langkah-langkah extraordinary ini betul-betul harus kita lakukan. Dan saya membuka yang namanya entah langkah politik, entah langkah-langkah ke pemerintahan, akan saya buka. Langkah apa pun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita, untuk negara," kata Jokowi seperti arahannya kepada Kabinet Indonesia Maju dalam rapat terbatas pada 18 Juni 2020, seperti yang ditayangkan YouTube Setpres, Minggu (28/6/2020).

"Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle. Udah kepikiran ke mana-mana saya. Entah buat perppu yang lebih penting lagi kalau memang diperlukan. Karena memang suasana ini harus ada, suasana ini tidak..., Bapak-Ibu tidak merasakan itu sudah," sambungnya.

Usai pernyataan Jokowi itu, isu reshuffle kemudian menjadi liar. Bahkan muncul berbagai prediksi menteri-menteri mana saja yang bakal dirombak Jokowi.

Setelah wacana perombakan kabinet memanas, mendadak pihak Istana seperti 'mengerem' isu tersebut. Mensesneg Pratikno mengeluarkan pernyataan isu reshuffle tidak lagi relevan karena teguran Jokowi, menurutnya, direspons positif jajaran kabinet.

Pratikno mencontohkan serapan anggaran kementerian/lembaga saat ini sudah meningkat. Begitu juga soal eksekusi program-program dari kementerian/lembaga.

"Dalam waktu yang relatif singkat, kita melihat progres yang luar biasa di kementerian/lembaga, antara lain bisa dilihat dari serapan anggaran yang meningkat, program-program yang sudah mulai berjalan. Artinya, teguran keras tersebut punya arti yang signifikan," kata Pratikno saat menjawab pertanyaan soal reshuffle, yang disiarkan di saluran YouTube Sekretariat Presiden, Senin (6/7).

Pratikno (Andhika-detikcom)Pratikno (Andhika/detikcom)

"Jadi kalau progresnya bagus, ngapain di-reshuffle? Intinya begitu. Tentunya dengan progres yang bagus ini isu reshuffle tidak relevan sejauh bagus terus. Sekarang sudah bagus dan semoga bagus terus. Tentu saja kalau bagus terus ya nggak ada isu, nggak relevan lagi reshuffle. Artinya, teguran keras tersebut punya arti yang signifikan. Teguran keras tersebut dilaksanakan secara cepat oleh kabinet," sambungnya.

Lantas apakah maksud tiba-tiba pihak Istana ingin menghentikan isu reshuffle?

Pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio memperkirakan Istana mengerem isu reshuffle lantaran tak ingin Kabinet Indonesia Maju menjadi berkurang kinerjanya. Jokowi dinilai hanya ingin memotivasi jajaran para menterinya dengan ancaman reshuffle.

"Karena dia pasti mengharapkan menteri-menterinya nggak gelisah mikirin reshuffle. Menteri-menterinya fokus pada kerjaannya. Hanya, pertanyaannya kenapa kemudian isu reshuffle ini dilemparkan ke publik. Tampaknya Jokowi mau melecut kan supaya menteri-menterinya bekerja lebih keras," ujar Hendri dalam perbincangan, Selasa (7/7/2020).

Selanjutnya
Halaman
1 2