Komnas Perempuan Sesalkan Kasus Pejabat Pelindung Anak Diduga Perkosa ABG

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 07:06 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)

Lebih lanjut, Iswarini berharap korban segera mendapatkan pemulihan. Iswarini juga menyoroti agar proses seleksi pejabat perlindungan anak harus benar-benar diperhatikan.

"Merekomendasikan agar korban mendapatkan pemulihan secepatnya dan bantuan hukum yang tepat. Merekomendasikan agar sistem rekrutmen terhadap pimpinan-pimpinan/staff yang berhubungan langsung dengan korban di lembaga pengada layanan dan rumah aman juga memperhitungkan jenis kelamin," kata Iswarini.

Iswarini mengatakan kesehatan mental korban harus menjadi prioritas. Dia berharap agar korban didampingi dengan tepat dan benar.

"Kepentingan korban dan psikologisnya harus diprioritaskan. Mengingat korban kebanyakan perempuan dan anak-anak, seringkali keberadaan para laki-laki apalagi yang tidak memahami perspektif korban justru akan menyebabkan korban merasa tidak nyaman dan leluasa untuk memberikan informasi sensitif saat didampingi. Keberadaan laki-laki sebaiknya ada di posisi-posisi yang bukan pengambil keputusan atau berhadapan langsung dengan korban," kata dia.

Selain itu, Iswarini menyebut Komnas Perempuan akan berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Serta juga akan berkomunikasi dengan KPAI.

"Komnas Perempuan adalah lembaga pemantau dan tidak memiliki mandat untuk bekerja secara langsung dengan korban. Jadi kami akan berkoordinasi dengan pihak-pihak seperti KPPPA, KPAI agar dapat segera merespon situasi ini," kata dia.

Sebelumnya, Kepala UPT Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur berinisial DA dilaporkan ke polisi karena diduga memerkosa remaja putri berinisial N (14). Polisi akan memanggil DA terkait kasus itu.

"Secepatnya. Ini kan sekarang digelar, sesegera mungkin (pemanggilan-pemanggilan). Kita gerak cepat," kata Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad saat dimintai konfirmasi, Senin (6/7/2020).

Pandra mengatakan remaja putri 14 tahun itu seorang pelajar. Dia berada di P2TP2A Lampung Timur karena sebelumnya dicabuli oleh pamannya pada Januari 2020. Namun saat melakukan konseling itu dia mengalami pelecehan seksual dari DA.


(lir/idn)