Makna Kemarahan Jokowi di Pidato 18 Juni dari Perspektif Budaya Jawa

Tim detikcom - detikNews
Senin, 06 Jul 2020 18:34 WIB
Ekspresi Jokowi dianalisis pakar gestur. (Tangkapan layar kanal YouTube Setpres RI)
Foto: Ekspresi Jokowi dianalisis pakar gestur. (Tangkapan layar kanal YouTube Setpres RI)

Dia pun mencontohkan Presiden Indonesia ke-2 Soeharto yang berbahasa halus namun perkataannya tegas. Dia menyebut sikap Soeharto itu bisa dinilai sebagai kemarahan dan ketegasan dalam perspektif Jawa.

"Soeharto itu terkenal the smiling general, Soeharto ketika memberedel kompas itu cukup tersenyum dan sambil bilang katakan ke Jacob Utama 'ojo meneh-meneh', tapi terngiang-ngiang di Jacob Utama. Kita hampir nggak pernah lihat Soeharto marah-marah depan publik seperti itu, karena ketika orang Jawa tak bisa kontrol marahnya, maka itu refleksi sudah lemah kekuasaannya," ungkapnya.

Selain itu, kemarahan Jokowi dinilai Wijayanto semakin tajamnya perseteruan elite di belakang Jokowi. Dia menilai banyak orang di sekitar Jokowi membuat panggung untuk mengamankan posisi mereka di Pemilu 2024.

"Di sisi lain, ini merupakan refleksi semakin tajamnya perseturuan di antara elite oligarki yang ada di sekitar Jokowi, yang saling bersaing merebutkan panggung, dan kuasa mengamankan posisi mereka di 2024 saat Jokowi tak mungkin lagi calonkan diri," tutur dia.

Kemudian, dia menilai Jokowi marah karena menterinya tidak bekerja maksimal di tengah pandemi Corona (COVID-19). "Dalam konteks penanganan pandemi, kemarahan Jokowi karena dia merasa menteri nggak menjalankan instruksinya, semakin menegaskan hilangnya kepemimpinan dalam pandemi ini yang menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan kita dalam tangani Corona," pungkasnya.

Halaman

(zap/zap)