Heboh 'Kalung Anticorona', Waketum IDI: Perlu Penelitian Lebih Mendalam

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 05 Jul 2020 16:44 WIB
Kalung antivirus Corona (Vadhia Lidyana-detikcom)
Kalung yang diklaim antivirus Corona (Vadhia Lidyana/detikcom)
Jakarta -

Waketum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Slamet Budiarto, menilai kalung antivirus Corona buatan Kementerian Pertanian (Kementan) adalah sejenis herbal. Dia tak mempersoalkan produk tersebut, bila sudah diteliti bermanfaat, dapat dimanfaatkan.

"IDI menilai kalung anti Corona buatan Kementan ini adalah sejenis herbal yang bisa dimanfaatkan," kata Slamet, saat dihubungi, Minggu (5/7/2020).

Menurutnya, eucalyptus bisa bermanfaat seperti tanaman herbal lainnya. Namun apabila ingin dijadikan obat, harus diuji klinis. Jika tak diuji klinis, itu bukanlah obat, melainkan herbal.

"Jadi eucalyptus ini adalah herbal. Kalau sudah diteliti ya tidak apa-apa dimanfaatkan saja," ungkapnya.

"Kalau obat herbal nggak perlu (diuji klinis). Namanya herbal. Kalau diuji klinis, namanya obat," sambung Slamet.

Meski demikian, Slamet berpendapat kalung itu harus diteliti dulu manfaatnya terhadap COVID-19.

"Untuk kemanfaatan terhadap COVID-19 perlu dilakukan penelitian lebih mendalam," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, kalung ini awalnya diperkenalkan oleh Mentan Syahrul Yasin Limpo. Produk yang diklaim sebagai 'antivirus' Corona ini akan diproduksi Kementerian Pertanian.

"Ini antivirus hasil Balitbangtan, eucalyptus, pohon kayu putih. Dari 700 jenis, 1 yang bisa mematikan Corona hasil lab kita. Dan hasil lab ini untuk antivirus. Dan kita yakin. Bulan depan ini sudah dicetak, diperbanyak," kata Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo usai menemui Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (3/7).

Belakangan, Kementerian Pertanian (Kementan) menjelaskan soal kalung 'antivirus' Corona yang kini jadi sorotan publik. Kalung tersebut diklaim bukan obat.

Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian Indi Dharmayanti menjelaskan semua inovasi yang dilakukan Kementan masih dalam tahap invitro dengan proses riset dan penelitian yang masih panjang.

"Sebenarnya bukan obat untuk Corona, karena riset masih terus berjalan. Tapi ini adalah ekstrak dengan metode desilasi untuk bisa membunuh virus yang kita gunakan di laboratorium. Toh sesudah kita lakukan screening ternyata eucalyptus ini memiliki kemampuan membunuh virus influenza, bahkan Corona," katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (5/7).

(yld/imk)