Pakar Minta Rapid Test Disetop, Komisi IX: Kalau PCR-TCM Sudah Cukup di RI

Farih Maulana Sidik - detikNews
Minggu, 05 Jul 2020 09:05 WIB
Melki Laka Lena
Foto: Wakil Ketua Komisi IX Melki Laka Lena. (Nur Indah/detikcom).

Melki menyebut penggunaan alat rapid test dan PCR produksi dalam negeri yang sudah lolos uji harus diprioritaskan untuk dipakai secara massal. Dengan harga yang relatif lebih terjangkau, selain membantu dalam bidang kesehatan, menurutnya juga akan mendongkrak perekonomian Indonesia.

"Berguna dalam aspek kesehatan sekaligus membantu memutar roda ekonomi dalam negeri dalam penanganan COVID-19," katanya.

Diberitakan sebelumnya, pakar epidemiologi Pandu Riono angkat bicara mengenai rapid test yang marak dilakukan pemerintah daerah di tengah wabah virus Corona (COVID-19). Menurutnya, rapid test mesti dihentikan secepatnya.

"Menurut saya, harus segera. Kalau perlu, besok Senin rapid test di seluruh Indonesia itu dihentikan," ujar Pandu dalam diskusi 'Jelang Usai PSBB Transisi', Sabtu (4/7).

Menurut dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), rapid test sangat tidak akurat. Menurutnya, hasil rapid test tidak bisa menjadi acuan.

"Adanya testing cepat antibodi, rapid test, ini sangat tidak akurat," imbuh Pandu.

"Yang dites itu antibodi. Antibodi itu artinya respons tubuh terhadap adanya virus. Itu terbentuk seminggu atau beberapa hari setelah terinfeksi. Kalau tidak reaktif, bukan berarti tidak terinfeksi. Kalau reaktif, bukan berati bisa infeksius," kata Pandu.

Halaman

(fas/azr)