Kurangi Kepadatan, KAI Minta Perusahaan Atur Lagi Jam Kerja Pegawai

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 04 Jul 2020 10:41 WIB
Thumbnail video new normal di KRL
Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni
Jakarta -

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo meminta seluruh stakeholder mematuhi protokol kesehatan yang diterapkan pada KRL Jabodetabek, khususnya pengaturan jam kerja bagi pegawai di masa adaptasi kebiasaan baru.

Didiek meminta seluruh instansi pemerintah, BUMN, BUMD, dan swasta mengatur jam kerja pegawainya sesuai Surat Edaran Gugus Tugas COVID-19 No 8 Tahun 2020 tanggal 14 Juni 2020 agar kepadatan di stasiun dan di KRL dapat tetap terkendali.

"Kepadatan dapat terjadi dikarenakan dua hal, adanya pembatasan kapasitas angkut KRL dan terus bertambahnya penumpang, terutama pada masa peak hour," ujar Didiek dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/7/2020).

Sejak diberlakuannya PSBB transisi di DKI Jakarta pada 5 Juni 2020, jumlah penumpang KRL semakin meningkat dari waktu ke waktu. Pada hari pertama kerja sejak diberlakukannya PSBB transisi, yaitu Senin, 8 Juni, jumlah penumpang yang dilayani KRL sebanyak 300.029 penumpang. Pada Senin, 29 Juni, jumlah tersebut mencapai 393.498 penumpang atau meningkat 31 persen.

"Dengan adanya pembatasan kapasitas KRL sebanyak 45 persen atau 74 penumpang per kereta, antrean di stasiun pada jam sibuk tidak dapat dihindarkan," ungkap Didiek.

Didiek menjelaskan kepadatan sebetulnya dapat dihindari jika seluruh pihak mematuhi pengaturan jam kerja sesuai SE Gugus Tugas COVID-19 No 8 Tahun 2020. Dengan adanya pengaturan jam kerja, antrean penumpang yang biasanya terjadi pada pukul 06.30-07.30 WIB setiap hari dapat melandai karena jadwal keberangkatan penumpang bergeser dan tidak bersamaan seperti saat ini.

"Berdasarkan data, tidak ada pergeseran peak hour sejak terbitnya SE Gugus Tugas COVID No 8 Tahun 2020 tanggal 14 Juni 2020. Sampai saat ini, peak hour pagi berkisar pada rentang 06.30-07.30 dan malam pada rentang 16.30-18.30," terangnya.

KAI mengapresiasi pemerintah pusat dan daerah yang menyediakan bus gratis dari berbagai stasiun untuk menuju ke DKI Jakarta. Namun armada yang disediakan belum mampu mengakomodasi sebagian besar penumpang yang akan ke DKI Jakarta.

"Alangkah baiknya setiap perusahaan maupun instansi juga menyediakan angkutan bus bagi pekerjanya masing-masing, sehingga kepadatan di KRL dapat semakin terurai," tutur dia.

Dari sisi operasional, KAI sudah semaksimal mungkin meningkatkan kapasitas perjalanan melalui berbagai pengaturan pola operasi.

Jam operasional KRL sudah diperpanjang dari sebelumnya pada masa PSBB DKI, yaitu 05.00-18.00 WIB, dan sejak PSBB transisi jam operasional diperpanjang menjadi pukul 04.00-21.00. Jumlah perjalanan pun sudah bertambah dari 774 perjalanan pada masa PSBB dan kini sudah menjadi 938 perjalanan per hari, yang sudah mencapai 95 persen dari perjalanan pada masa normal, yaitu 991 perjalanan per hari.

"Jarak antarkereta pada jalur sibuk seperti Bogor di jam sibuk juga sudah seperti pada masa normal, di mana jaraknya hanya 5 menit antar-keberangkatan kereta," jelasnya.

Diketahui, sejak awal pandemi, KAI melalui KCI telah menerapkan protokol kesehatan di KRL. Penumpang KRL wajib menggunakan masker selama berada di area stasiun dan di dalam KRL, suhu tubuh maksimal 37,3 derajat Celsius, diimbau rutin mencuci tangan di wastafel yang disediakan, rutin melakukan pembersihan kereta dengan cairan pembersih yang mengandung disinfektan, serta protokol kesehatan lainnya. Untuk menegakkan protokol tersebut, KCI sudah bekerja sama dengan TNI dan Polri dengan menempatkan ratusan petugas di berbagai stasiun yang jumlah penumpangnya tinggi.

KCI juga mengimbau agar para penumpang mematuhi marka yang ada di stasiun maupun di kereta agar tetap dapat menjaga physical distancing antarpenumpang. Saat kondisi padat, petugas akan melakukan penyekatan dengan zona-zona antrean di stasiun, sehingga akan memunculkan antrian di stasiun terutama pada jam sibuk. Petugas di dalam KRL juga terus mengingatkan penumpang untuk bergeser ke kereta yang kosong jika terjadi kepadatan.

Sebagai transportasi publik dengan jumlah pengguna terbesar di wilayah Jabodetabek, KRL memiliki peran vital dalam mendukung aktivitas warga untuk kembali produktif dengan disiplin dan aman. KAI dan KCI tetap berkomitmen melayani seluruh masyarakat dengan berbagai protokol kesehatan yang diterapkan dengan ketat dan tegas.

"Dengan terus meningkatnya jumlah penumpang dari waktu ke waktu, KAI berharap seluruh pihak dapat bekerja sama agar KRL dapat melayani penumpang dengan maksimal dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat," pungkasnya.

(mul/mpr)