Kisah Miris Pengantin Pesanan China: Alami Kekerasan Seks-Gaji Dipotong

Yulida Medistiara - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 18:35 WIB
Little girl suffering bullying raises her palm asking to stop the violence
Foto ilustrasi kekerasan: iStock
Jakarta -

Peneliti LIPI Wabilia Husnah melakukan penelitian terhadap wanita yang menjadi korban pengantin pesanan dari pria China. Rata-rata perempuan yang menjadi korban pengantin pesanan mendapatkan kekerasan seksual, mereka juga mengalami pemotongan gaji.

"Korban menuturkan selama hidup menjadi pengantin pesanan di Tiongkok dia sering mengalami tindakan kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Salah satunya Mayang dipaksa untuk segera hamil dan memberikan keturunan ke suaminya," kata Wabilia dalam diskusi bertajuk Praktik Pengantin Pesanan dari Indonesia ke Tiongkok yang disiarkan di YouTube Kewilayahan LIPI, Jumat (3/7/2020).

Penelitian tersebut dilakukan dengan metode wawancara kepada para korban. Dari hasil kajiannya, beberapa korban ada yang mendapatkan kekerasan fisik, kekerasan seksual, hingga tak mendapat uang yang dijanjikan sesuai awal mula rekruitmen tersebut.

Wabilia menuturkan, awalnya pria China bekerjasama dengan orang yang disebut dengan mak comblang untuk mencarikan wanita yang akan dinikahi. Pria China itu membayar uang Rp 400 juta, selanjutnya mak comblang mempertemukan pria itu dengan korban yang jika merasa cocok akan segera dilakukan pernikahan.

Selanjutnya perempuan akan diberikan uang Rp 20 juta sebagai mahar, menurut wanita yang akrab disapa Lia itu, mak comblang ini mencari keuntungan semata. Justru, saat sudah tinggal di rumah suaminya di China, korban ada yang mendapatkan kekerasan fisik dan seksual, selain itu tidak diberikan uang sesuai dengan perjanjian awal.

"Jadi perempuan korban pengantin pesanan adalah korban yang di perdagangkan. Perdagangan yang terjadi demi keuntungan si makelar bukan demi keuntungan korban. Ini terlihat dari nominal harga setoran perempuan yang harus disetorkan laki-laki Tiongkok, sementara korban hanya kurang dari Rp 20 juta. Jadi terlihat betapa besarnya yang dapat di dapat makelar," ujarnya.

Dia menuturkan, laki-laki China banyak yang melakukan kekerasan karena menganggap sudah membeli perempuan Indonesia dengan harga mahal. Sementara itu, alasan mengapa pria Tiongkok mencari perempuan Indonesia karena merasa jumlah wanita di China sedikit, akibat dari kebijakan 1 keluarga maksimal 1 orang.

Tonton juga video 'Pengakuan Mengejutkan Pemerkosa Remaja hingga Tewas':

Selanjutnya
Halaman
1 2 3