Bareskrim Tangkap 2 Penyebar Hoax yang Provokasi Nasabah Tarik Uang di Bank

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 16:09 WIB
Bareskrim Polri.
Bareskrim Polri (Ahmad Bil Wahid/detikcom)
Jakarta -

Direktorat Siber Bareskrim Polri menangkap dua orang tersangka penyebar hoax tentang kondisi perbankan di Indonesia. Kedua tersangka memprovokasi masyarakat untuk menarik uang dari bank dan mengaitkan keadaan saat ini dengan kondisi pada 1998.

"Bareskrim Polri melakukan penangkapan terhadap dua tersangka penyebaran berita bohong (hoax) yang provokatif tentang kondisi perbankan di Indonesia," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiono di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (3/7/2020).

Kedua tersangka masing-masing berinisial AY dan IS. Mereka membuat posting-an di Twitter dengan kalimat 'Yg punya simpenan di Bukopin, BTN, Mayapada buruan ambil (klo bisa semuanya)..!!!! Daripada amsyong....'.

Polisi menegaskan apa yang dicuitkan kedua tersangka tidak benar.

"Bahwa beberapa bank yang telah disebutkan oleh para pelaku tidak mengalami permasalahan perbankan atau likuidasi," ujar Awi.

Sementara itu, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi menyebut tersangka juga menyinggung krisis 1998 pada posting-an di media sosial.

"Dua pelaku ini menyebarkan berita provokatif bahwa menarik uang di beberapa bank, untuk segera menarik karena melihat situasi yang tahun 1998," ujar Slamet.

Slamet menyebut kedua tersangka tidak saling kenal dan tidak berafiliasi dengan pihak mana pun. Mereka menyebarkan hoax tersebut hanya karena iseng.

"Kami dapat pastikan bahwa kedua tersangka ini tidak berafiliasi dengan pihak mana pun. Jadi bekerja atas inisiatif sendiri. Dan kami tanyakan motifnya apa. Yang pertama dia sampaikan adalah iseng," ucapnya.

Polisi juga menyita barang bukti berupa handphone dan SIM card yang digunakan pelaku untuk menyebarkan kabar bohong tersebut. Keduanya dijerat Pasal 45 juncto Pasal 27 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara.

(abw/idn)