Mahfud Md: Demokrasi RI Banyak Fitnah-hoax, Sesuai Prediksi Abad 5 SM

Ahmad Arfah - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 13:05 WIB
Menkopolhukam Mahfud MD
Mahfud Md (Faiq Azmi/detikcom)

Mahfud lalu bicara tentang pandangan Aristoteles soal demokrasi. Menurutnya, Aristoteles memandang demokrasi memunculkan banyak demagog, yakni orang yang jago berpidato dan suka umbar janji semata.

"Aristoteles itu mengatakan jangan memilih demokrasi. Kenapa? Karena di dalam demokrasi banyak demagog. Tahu demagog? Demagog itu tukang berpidato tapi bohong. 'Kalau saya nanti terpilih di sini saya bangun jembatan yang bagus' zaman Orde Baru ini ceritanya, jembatan yang bagus. Rakyatnya bilang 'Pak di sini nggak ada sungai'. 'Saya bagun sungai sekalian', itu namanya demagog," ucapnya.

"'Kalau saya terpilih nanti di sini dibangun rumah sakit termegah se-Asia'. Dibangun rumah sakit, tambah mahal sesudah dia terpilih orang berobat tambah mahal. Itu demagog," sambungnya.

Dia kemudian menyebut, masih berdasarkan pandangan Aristoteles, demokrasi menimbulkan orang narsis. Dia mencontohkan tentang calon saat Pemilu yang memuji-muji diri sendiri.

"Narsis, menganggap dirinya paling baik. Calon gubernur, calon presiden, calon DPR. Namanya Doli Kurnia, hebat, dibuat gambarnya sendiri, dibaca sendiri, dikampanyekan sendiri. Itu namanya narsis," ucap Mahfud yang disambut tawa peserta rapat. Ketua Komisi II DPR, Ahmad Doli Kurnia sendiri terlihat hadir di acara ini.

"Mahfud Md, calon presiden keturunan Mak Erot, ditulis sendiri, dikampanyekan sendiri. Saudara akan banyak lihat itu sebentar lagi, di pinggir jalan, spanduk, di televisi," sambungnya.

Dia menilai hal tersebut merupakan bagian buruk dari demokrasi. Meski demikian, Mahfud mengatakan Aristoteles tetap memilih demokrasi.

"Sesudah diajak diskusi juga, terus gimana pilih negara apa? Pilihannya tetap demorkasi," tutur Mahfud.

Mahfud lalu mencontohkan negara-negara otoriter hingga negara demokrasi yang tidak terkendali. Dia mewanti-wanti soal demokrasi yang terkendali dan menyebabkan anarki hingga bisa menimbulkan tirani.

"Kalau di zaman sekarang strong institution, kita tidak ingin. Kita reformasi karena kekuasaan yang militeristik," ujar Mahfud.

"Demokrasi tetap dipilih, jangan mimpi mau jadi tiran lagi. Karena di situ dari sebuah demokrasi lebih bisa diatasi dibanding dengan sistem lain karena filosofi dasarnya dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat," tambahnya.

Halaman

(haf/dnu)