Round-Up

Tanda Tanya Tak Terdeteksinya Djoko Tjandra: Jalan Tikus atau Ganti Nama?

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 06:19 WIB
Ilustrasi korupsi
Ilustrasi (Foto: ilustrasi oleh Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Kabar mengenai Djoko Tjandra menembus masa tahun demi tahun. Terpidana kasus hak tagih (cessie) Bank Bali pada periode 90-an itu tiba-tiba diketahui berada di Indonesia setelah bertahun-tahun diburu penegak hukum.

Bermula dari curahan hati (curhat) seorang ST Burhanuddin di hadapan para anggota dewan saat rapat kerja di Komisi III DPR pada Senin, 29 Juni 2020, nama Djoko Tjandra muncul. Burhanuddin merasa sakit hati lantaran mendapatkan informasi bila Djoko Tjandra sudah di Tanah Air sejak 3 bulan terakhir.

"Informasinya lagi menyakitkan hati saya adalah katanya 3 bulanan dia ada di sini," kata Burhanuddin saat itu.

"Ini Djoko Tjandra, mudah-mudahan saya juga sangat-sangat menginginkan, kita sudah berapa tahun mencari Djoko Tjandra ini tapi yang justru melukai hati saya, saya dengar Djoko Tjandra bisa ditemui di mana-mana, di Malaysia di Singapura tetapi kita sudah minta ke sana ke sini juga tidak bisa ada yang bawa," imbuh Burhanuddin.

Selain itu diketahui bila Djoko Tjandra telah mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Burhanuddin pun mengaku bila informasi intelijen kejaksaan masih lemah lantaran bisa kecolongan informasi itu.

"Ini juga jujur ini kelemahan intelijen kami tapi itu yang ada, terus saya tanyakan pada pengadilan bahwa itu didaftarkan di pelayanan terpadu jadi tidak secara identitasnya terkontrol tetapi ini akan menjadi suatu evaluasi kami bahwa dia bisa masuk karena memang aturannya, katanya, untuk masuk ke Indonesia dia tidak lagi ada pencekalan tetapi pemikiran kami adalah bahwa dia ini sudah terpidana, pencekalan ini aja tersangka, ada batas waktunya, untuk kepastian hukum tapi kalau ini sudah terpidana seharusnya pencekalan ini terus menerus dan berlaku sampai ketangkap, ini akan menjadi persoalan kami nanti dengan imigrasi," kata Burhanuddin.

"Mohon izin kami juga tidak menyalahkan siapa, tetapi ini pemikiran yuridis kami, pencekalan kalau itu sudah terpidana artinya harusnya tidak ada batas waktunya sampai dia tertangkap, untuk pencekalan tersangka atau terdakwa ada batas waktunya ini diperlukan untuk kepastian hukum, itu akan menjadi kami akan bicara dengan pihak sebelah," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4