Round-Up

Di Balik Heboh 'Cadarisasi' ala Bupati Lombok Tengah

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 02 Jul 2020 19:58 WIB
Bupati Lombok Tengah M Suhaili Fadhil Thohir.
Bupati Lombok Tengah M Suhaili Fadhil Thohir. (Foto: dok. website Pemkab Lombok Tengah)
Jakarta -

Video Bupati Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, M Suhaili Fadhil Thohir yang berbicara seputar 'cadarisasi' menjadi buah bibir. Suhaili menjelaskan duduk perkaranya.

Dalam video beredar, tampak Suhaili berbicara di hadapan jajarannya saat senam. Dia mengatakan yang memakai jilbab diharuskan disertai cadar sebagai pengganti masker.

"Akan ada kita programkan gerakan kita untuk maskerisasi dengan menggunakan cadarisasi. Jadi jilbab harus disertai dengan cadar. Jadi nanti kalau misalnya merah warna jilbabnya, cadarnya pun warna merah, ini khusus ibu-ibu. Bapak-bapak pakai masker. Yang tidak muslim, yang tidak pakai jilbab, tetap pakai masker. Tapi yang muslim yang pakai jilbab, dia pakai cadar," kata Suhaili.

Saat dimintai konfirmasi, Suhali mengatakan pernyataannya jadi perdebatan hanya karena terjebak istilah saja. Dia mengatakan gerakan itu untuk optimalisasi penggunaan masker.

"Jadi terjebak hanya pada istilah cadar, padahal itu hanya upaya untuk optimalisasi penggunaan masker. Mulai aparat dulu yang kita harapkan jadi contoh, bisa menjadi mobilisator masyarakat disiplin menggunakan masker," kata Suhaili saat dihubungi detikcom pada Kamis (2/7/2020).

Selain itu, Suhaili mengatakan ada yang mengatakan, saat olahraga menggunakan masker, maka kurang oksigen atau kurang bagus.

Oleh karena itu, dia mencanangkan memakai cadar untuk muslimah.

"Ya sudah, bagi yang muslimah begini saja, pakai cadar saja, kan bawahnya nggak terikat, yang penting ada untuk menghadang, menutup hidung dan mulut saja. Kalau alis, apanya masih tetap seperti biasa, bukan cadar yang... hanya masker, sebenarnya gitu," ujarnya.

Dia menegaskan wajib cadar itu hanya internal bagi pegawai Lombok Tengah, seperti halnya wajib bermasker. Wajib mengenakan cadar itu dia minta tak dikaitkan dengan ajaran agama.

"Kemudian ndak ada landasan, walaupun ada kata wajib, wajib internal, sama dengan wajib maskerlah. Tidak ada konotasi wajib menurut ajaran agama. Sama dengan masker ini saja," tuturnya.

Suhaili menegaskan tidak ada protes dari karyawan maupun pegawai. Apalagi pegawai-pegawai merasa lebih lega bernapas di balik cadar.

"Ndak ada (protes), malah mereka senang, karena pada saat senam mereka agak leluasa napasnya. Kemudian nggak ada sih pakaian harus jonggrang jinggrang gitu, nggak ada. Dikaitkan dengan ajaran yang radikal, fanatiklah, ndak ada," tuturnya.

(aan/imk)