Al-Ta'lim al-Muta'allim (13)

Ontologi Alam Syahadah Mutlak

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Kamis, 02 Jul 2020 07:00 WIB
Poster
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Alam syahadah mutlak ialah alam raya yang secara visual sepenuhnya dapat diindera dengan panca indera, seperti mineral, tanah, batu, air, gunung. Alam syahadah mutlak ini biasa disebut benda mati, meskipun dalam perspektif Islam tidak dikenal adanya istilah benda mati, karena semua makhluk, termasuk alam syahadah mutlak juga bertasbih kepada Allah Swt, sebagaimana dalam firman-Nya: Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Q.S. al-Isra'/17:44).

Alam syahadah mutlak merupakan struktur makhluk paling sederhana dan simpel di bandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya. Mereka memiliki zat yang dapat diindera dan relatif tidak berubah. Mereka memiliki eksistensi yang permanen. Berbeda dengan makhluk lainnya seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia, yang kemudian disebut alam syahadah gairu muthlaq dan karena itu disebut sering disebut makhluk hidup (bilogi).


Meskipun alam syahadah mutlak memilki wujud paling standar namun mereka juga bisa bereksistensi menjadi sesuatu yang lebih tinggi dari martabat awalnya jika mengalami proses. Perhatikan logam kasar dengan nilai dan harga lebih rendah bisa melonjak nilai dan harganya jika diproses penjadi logam mulia (emas 24 karat), apa lagi jika sudah diproses menjadi kalung. Mineral atau bebatuan yang tidak punya nilai dan harga tiba-tiba melonjak nilai dan harganya setelah diproses menjadi intan berlian, apalagi jika sudah diproses menjadi permata.


Untuk mengubah logam kasar menjadi logam mulia dan mineral menjadi intan diperlukan penempaan yang luar biasa. Mereka harus dihancurkan, dipukul, dibakar, dan dibentuk sedemikian rupa, untuk mencapai nilai dan harga yang lebih tinggi. Ini pelajaran berharga kepada kita, jika kita ingin memiliki nilai lebih tinggi maka harus melalui proses penempaan diri yang sempurna. Semakin sempurna penempaan diri itu maka semakin tinggi pula nilai martabat itu.


Seperti hukum alam, ornag-orang yang tidak pernah mengalami penempaan diri jangan pernah bermimpi akan memiliki nilai keutamaan hidup lebih tinggi. Kalaupun itu diperoleh, maka biasanya itu hanya sesaat dan tidak akan memuaskan banyak orang. Sama dengan emas atau belian imitasi, hanya akan menyenangkan sesaat, lama kelamaan warna dan bentuknya akan luntur dan cahayanya juga pudar.


Dunia pendidikan perlu diarahkan bagaimana membentuk emas dan berlian murni, bukan logam kasar atau mineral standar. Menempa peserta didik menjadi orang yang bernilai tinggi diperlukan penempaan yang proses yang sempurna. Tidak bisa asal-asalan jika kita menghendaki kulatis sumber daya manusia yang lebuh handal. Di sinilah peran agama, menuntun kita untuk menjadi "logam mulia" dan "berlian asli".


Alam syahadah mutlak merupakan pelajaran kearifan di dalam menjalani kehidupan. Hendaknya alam syahadah mutlak ini tidak semata-mata dijadikan obyek pembelajaran, tetapi sesekali menjadi subyek pembelajaran guna meraih kemuliaan hidup. Bagi umat beragama, tentu bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

(lus/lus)