Periksa Pejabat OJK, Kejagung Cecar soal Pengawasan Jual-Beli Saham Jiwasraya

Wilda Nufus - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 19:31 WIB
Kantor Pusat Jiwasraya
PT Asuransi Jiwasraya (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Tim penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) RI memeriksa tiga pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya. Penyidik Kejagung menanyakan perihal pengawasan jual-beli saham Jiwasraya.

"Saksi dan ahli yang diperiksa terkait dengan proses pengawasan jual-beli saham dalam pengelolaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya. Pemeriksaan saksi dan ahli guna pembuktian keterlibatan para tersangka, baik oknum pejabat OJK maupun tersangka korporasi, sebagai pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban atas kerugian keuangan negara pada pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Hari Setiyono dalam keterangan tertulis, Selasa (30/6/2020).


Ketiga pejabat OJK yang diperiksa, yakni:

1. Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal II OJK periode 2014-2017, Yunita Linda Sari
2. Kasubbag Pengawasan Perdagangan II pada Direktorat Pengawasan Transaksi Efek OJK, Nova Efendi
3. Kasubbag Pengawasan Perdagangan III pada Direktorat Pengawasan Transaksi Efek OJK, Ika Dianawati Nadeak

Kejagung diketahui menetapkan Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal II a OJK periode Januari 2014-2017, Fakhri Hilmi (FH), sebagai tersangka kasus Jiwasraya. Saat ditetapkan sebagai tersangka kasus Jiwasraya, Fakhri menjabat Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK.

"Satu orang tersangka dari OJK, atas nama FH, pada saat itu yang bersangkutan menjabat sebagai Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal II a periode Januari 2014-2017. Kemudian yang bersangkutan diangkat sebagai Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II periode 2017-sekarang," kata Hari kepada wartawan di Gedung Bundar, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (25/6).


Dalam kasus Jiwasraya, Kejagung telah menetapkan enam tersangka, yaitu Benny Tjokro, Komisaris PT Hanson International Tbk; Heru Hidayat, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram); Hendrisman Rahim, mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero); Hary Prasetyo, mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero); Syahmirwan, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero); serta terakhir Direktur PT Maxima Integra bernama Joko Hartono Tirto.

Benny Tjokrosaputro didakwa memperkaya diri melalui transaksi pembelian dan penjualan saham dengan sejumlah pejabat Jiwasraya. Benny dkk didakwa telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 16 triliun.

(zak/zak)