Round-Up

Menanti Pelaku Praktik 'Kawin Tangkap' di Sumba Terungkap

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 07:53 WIB
Ilusttrasi menikah
Foto: Ilustrasi pernikahan (dok. thinkstock)
Jakarta -

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati menyoroti praktik 'kawin tangkap' di Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT). Praktik ini diselidiki polisi.

"Budaya atau tradisi tidak statis, tetapi dinamis. Kasus kawin tangkap adalah praktik kekerasan dan pelecehan terhadap kaum perempuan dan anak. Jadi jangan sampai alasan tradisi budaya dipakai hanya sebagai kedok untuk melecehkan perempuan dan anak," ujar Bintang, dilansir Antara pada Senin (29/6/2020).

Menyusul laporan beberapa aktivis ke kepolisian mengenai praktik kawin tangkap di Sumba, Bintang meminta Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur menangkap para pelaku 'kawin tangkap'. Seorang perempuan Sumba Tengah, Rambu Prailiang, mengatakan 'kawin tangkap' adalah tradisi turun menurun, namun praktiknya sudah berbeda dari yang dulu.

"Tradisi ini sebenarnya sudah menjadi tradisi yang turun temurun. Namun jika dilihat yang terjadi saat ini berbeda sekali dengan yang terjadi pada lalu-lalu," kata Rambu.

Menteri PPPA, I Gusti Ayu Bintang (Rahel/detikcom)Foto: Menteri PPPA, I Gusti Ayu Bintang (Rahel/detikcom)

Rambu tak setuju dengan praktik kawin tangkap saat ini. Dia menjelaskan pelaksanaannya pada masa sekarang sudah melenceng jauh.

Dia menerangkan perempuan yang menjalankan tradisi itu atau yang disebut dalam bahasa daerahnya Palaingidi Mawini, dihargai pada masa lalu. Dulu orang yang menjalankan praktik kawin tangkap harus berasal dari keluarga kaya karena belis atau mahar yang harus dibayarkan ke pihak perempuan besar.

Rambu menyebut dulu perempuan yang akan 'ditangkap' juga sudah dipersiapkan, didandani dengan pakaian adat lengkap dengan aksesoris gelang gading dan aneka perhiasan. Pria yang akan menikahi perempuan itu pun mengenakan pakaian adat lengkap dan menunggang kuda berhias kain adat.

Setelah perempuan 'ditangkap', pihak laki-laki akan mengirim utusan ke keluarga perempuan untuk menyampaikan informasi mengenai kejadian kawin tangkap tersebut. Namun Rambu mengungkapkan praktik kawin tangkap lebih mengarah pada penculikan dan membuat kaum perempuan Sumba, khususnya di Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya, hidup dalam ketakutan sekarang.

Tonton juga video 'Cerita Terungkapnya Nikah Sesama Wanita di Soppeng Sulsel':

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5