Kualitas Udara Jakarta Tak Sehat, BMKG: Polutan Meningkat

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Sabtu, 27 Jun 2020 20:24 WIB
Jakarta Air Quality Index
Jakarta Air Quality Index (ist/iqair.com)
Jakarta -

Kualitas udara DKI Jakarta tiga hari belakangan tercatat tidak sehat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut ada peningkatan polutan seiring dengan meningkatnya aktivitas warga di masa PSBB transisi.

detikcom memantau data kualitas udara di DKI Jakarta di situs iqair.com, Sabtu (27/6/2020). Di situs ini Jakarta menempati urutan kedua kota besar di dunia dengan polusi udara tinggi. Peringkat pertama ditempati Canberra, Australia, dan peringkat ketiga Dubai, Uni Emirat Arab.

Tiga hari ke belakang, yakni Rabu, Kamis, dan Jumat, situs iqair.com menyatakan kualitas udara di Jakarta dalam status tidak sehat. Per hari ini, Sabtu, kualitas udaranya sedikit membaik dengan status 'tidak sehat bagi kelompok sensitif'. Indeks kualitas udara berada di angka 155 dengan polutan utama PM 2,5.

detikcom pun mencoba mengkonfirmasi hal ini kepada Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indra Gustari. Dia menyebut memang terjadi peningkatan polutan di DKI Jakarta.

"Kondisi kualitas udara dari hasil pemantauan peralatan PM10 di BMKG Kemayoran Jakarta rata-rata konsentrasi selama 2 dasaharian dilaksanakannya PSBB transisi (5 Juni - 25 Juni 2020) dibanding dengan masa PSBB, terjadi peningkatan 51 persen konsentrasi PM10 di Jakarta, dari rata-rata 45 mikron menjadi 68 mikron di 20 hari terakhir periode PSBB transisi ini," kata Indra, Sabtu (27/6/2020).

"Selain peningkatan aktivitas (mobilitas) masyarakat, Jakarta juga sudah memasuki musim kemarau sehingga polutan bisa bertahan lebih lama di udara. Kami melihatnya karena pengaruh faktor-faktor tersebut, peningkatan polutan dan berkurangnya hujan di wilayah Jakarta," sambungnya.

Terkait udara Jakarta pada pagi hari yang tampak berkabut, seperti pada Jumat (26/6), Indra menyebut ini juga dipengaruhi oleh lapisan inversi suhu udara dekat permukaan bumi. Dia menerangkan, inversi suhu udara adalah kondisi suhu udara di lapisan bawah yang lebih tinggi dari lapisan atasnya. Lapisan inversi tersebut akan menghambat gerak udara naik.

"Saat di permukaan bumi cukup banyak polutan (misalnya gas buang kendaraan, dan pabrik), jika disertai adanya inversi di lapisan atmosfer akan dapat mengakibatkan kekaburan udara, atau udara terlihat banyak abu," jelasnya.

(hri/idh)