26 Dokter PPDS Terinfeksi COVID-19, Gubernur Sulsel Beri Bantuan APD

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Rabu, 24 Jun 2020 12:28 WIB
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah
Foto: dok pemprov sulsel
Jakarta -

Sejumlah dokter khusus Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) terkena COVID-19 di Sulawesi Selatan. Salah seorang dokter yang berpraktek di Siloam Hospital Makassar dan Rumah Sakit Awal Bros Makassar, dr. Bambang Budiono, Sp.JP, melaporkan terdapat 10 dokter di bagian anak yang sedang mengikuti PPDS dan 16 dokter PPDS di bagian Kebidanan yang terinfeksi COVID-19.

Mengetahui hal ini, Gubernur Sulsel, HM Nurdin Abdullah, pun memanggil dr. Bambang ke rumah jabatan untuk mengetahui kondisi yang ada. Prihatin akan hal ini usai berdiskusi, Nurdin kemudian memberikan berbagai bantuan alat kesehatan.

"Ini yang kami serahkan donasi semua. Kita dapat ventilator dan APD, ini karena kita bersinergi," kata Nurdin dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2020).

Adapun bantuan yang diberikan, berupa masker N95 sebanyak 300 buah, hazmat 500 buah, faceshield 100 buah dan Goggles sebanyak 300 buah. Bantuan selanjutnya juga akan diberikan sesuai yang dibutuhkan oleh PPDS. Nurdin menyampaikan dokter yang mengambil pendidikan juga harus dilindungi secara optimal.

Bambang menjelaskan bahwa saat ini masih dilakukan pendataan agar memperoleh informasi yang tepat tentang PPDS yang terinfeksi di bagian-bagian lain. Ia sangat prihatin atas kondisi ini karena bukan hanya di Makassar tapi ratusan dokter PPDS di daerah lain juga ada yang terinfeksi bahkan ada yang meninggal dunia.

"Sangat luar biasa perhatian dari Bapak Gubernur, karena ini berita baru saya sampaikan, kurang lebih dua hari lalu melalui Ketua TP PKK Sulsel, Ibu Lies F Nurdin. Lalu ibu membicarakan kepada Bapak, banyak sekali dokter yang sedang mengambil spesialisasi itu terkena. Tidak hanya di Makassar, tetapi di seluruh Indonesia, ratusan dokter PPDS terkena infeksi dan beberapa bahkan telah gugur," jelasnya.

Dokter yang menyelesaikan pendidikan spesialis jantung dan pembuluh darah di Universitas Indonesia ini melanjutkan bahwa dokter dan tenaga kesehatan lainnya, mereka berada di ujung tombak dalam penanganan pandemi COVID-19 ini.

"Mereka adalah orang-orang berada di ujung tombak. Sehingga tentu saja akan mudah tertular apabila mereka tidak terproteksi, kita juga cukup tahu banyak dokter yang mengambil spesialis ini mereka tidak selalu memiliki kemampuan ekonomi sendiri untuk membeli APD, secara rutin," imbuhnya.

Kendala lain, lanjutnya, yakni keterbatasan APD di rumah sakit. Tidak semua rumah sakit memiliki alat penunjang yang cukup untuk para karyawannya. Keterbatasan ini pula yang membuat alat kelengkapan kerja hanya diprioritaskan di tempat isolasi penderita COVID-19 saja. Padahal, seluruh lingkungan rumah sakit memiliki risiko penularan virus ini.

"Ini yang bisa membuat potensi tertular menjadi tinggi. Dan inilah yang menjadi keprihatinan kita semua. Rupanya hal ini ditanggapi Bapak Gubernur luar biasa cepat dan tanggap. Dan kami terharu atas respon luar biasa ini," tukasnya.

Bantuan ini yang akan disalurkan ke dokter-dokter PPDS yang ada di Makassar dan sekitarnya. Saat ini seluruh PPDS sedang didata agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi.

"Karena ini hanya pemberian sementara saja, nanti akan pemberian lanjutan yang dibutuhkan dan saya diminta untuk melaporkan," pungkasnya.

(ega/ega)