Berdayakan Pangan, Koperasi Pesantren di Bandung Ini Jadi Role Model

Nurcholis Maarif - detikNews
Senin, 22 Jun 2020 11:18 WIB
Kemenkop
Foto: Dok. Kemenkop
Jakarta -

Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Al-Ittifaq dikatakan sebagai salah satu koperasi sektor riil yang bergerak di sektor pangan. Koperasi ini akan dikembangkan sebagai role model.

Sebab menurut Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, badan pangan dunia (FAO) sudah memprediksikan bahwa dunia akan mengalami krisis pangan. Saat itu, takkan ada lagi negara yang akan menjual produk pangannya.

"Oleh karena itu, selain mendorong gerakan masyarakat untuk menanam tanaman pangan, kita juga harus terus meningkatkan koperasi pangan sebagai bentuk antisipasi datangnya krisis pangan," kata Teten dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2020).

Hal itu diucapkannya saat mengunjungi Koppontren Al-Ittifaq di kawasan Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Minggu (21/6/2020).

"Kemenkop akan mem-backup koperasi atau koppontren seperti itu melalui pembiayaan LPDB-KUMKM. Kita akan memprioritaskan sektor pangan," ucap Teten.

Dengan sudah menerapkan sistem online, Teten meyakini Koppontren Al-Ittifaq bakal menjadi percontohan bagi koppotren lainnya di Indonesia.

"Karena pesantren ini sudah transformatif, pro teknologi, dan sudah melek IT, kita akan mempercepat transformasi digitalisasi ekonomi, terutama untuk KUMKM," imbuh Teten.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang turut hadir dalam acara tersebut mengatakan, bahwa sektor usaha yang sangat terdampak pandemi COVID-19 adalah perdagangan, jasa, dan industri.

"Sektor pertanian hanya sedikit yang terkena dampak. Terlebih lagi kita punya program strategis One Pesantren One Product. Insyaallah, mulai Agustus mendatang, ekonomi kita melaju kembali," tandas Emil.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo mengungkapkan, bahwa minggu depan akan dilakukan akad kredit pembiayaan dana bergulir sebesar Rp 7,3 miliar untuk Koppontren Al-Ittifaq.

"Dana bergulir itu sebagai modal kerja dan infrastruktur untuk kepentingan ekspor produk," kata Supomo.

Akad pembiayaan menggunakan pola akad Mudharabah untuk modal kerja dengan nisbah bagi hasil 30% untuk LPDB-KUMKM dan 70% untuk koperasi. Sedangkan akad Murabahah untuk investasi dengan margin sebesar 3% per tahun atau 15% selama lima tahun dari harga beli.

"Jangka waktu pembiayaan selama 60 bulan atau selama lima tahun sudah termasuk grace periode pengembalian pokok selama enam bulan," tukas Supomo.

Menurut Supomo, peran LPDB-KUMKM tidak hanya dalam pembiayaan, tetapi juga pendampingan. "Terlebih lagi, pencairan pembiayaan ini masuk ke dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)," lanjut Supomo.

Sementara itu, sesepuh Pondok Pesantren Al-Ittifaq KH Fuad Affandi menjelaskan, Koppontren Al Ittifaq yang berdiri pada 6 Juni 1997, memiliki total aset per Desember 2019 sebesar Rp 43,5 miliar.

"Kita bergerak di sektor usaha pertanian dan peternakan domba dan sapi," kata KH Fuad.

Koppontren Al Ittifaq menghasilkan beberapa komoditas unggulan, seperti jeruk dekompon, horenzo (bayam Jepang), cabai, wortel Sinkuroda, Butter Nut Pumpkin (labu madu), dan jagung.

"Pemasok hasil pertanian terdiri dari 270 orang petani binaan yang tersebar di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Cianjur," papar KH Fuad.

KH Fuad menambahkan, hasil pertaniannya dipasarkan diantaranya melalui jaringan supermarket Superindo, Yogya Supermarket, Aeon Mall BSD, hingga pasar-pasar tradisional.

Selain penjualan secara konvensional, Koppontren Al-Ittifaq juga melakukan penjualan secara online melalui aplikasi Alifmart.

"Koppontren Al-Ittifaq saat ini melakukan program kemitraan dengan Japan International Coorporation Agency (JICA) dan Programma Uitzending Manajer (PUM) Belanda," jelas KH Fuaf.

Terkait pembiayaan yang didapat dari LPDB-KUMKM, KH Fuad mengatakan, total plafon pembiayaan yang diterima sebesar Rp 7,3 miliar.

"Tujuan penggunaan dana bergulir tersebut untuk kebutuhan modal kerja dan investasi," tutup KH Fuad.

(prf/ega)