Hadiri ASEAN STOM Ke-49, Kemenhub Bahas Kerja Sama Sektor Transportasi

Inkana Putri - detikNews
Rabu, 17 Jun 2020 22:03 WIB
Kemenhub
Foto: dok Kemenhub
Jakarta -

Kementerian Perhubungan menghadiri pertemuan ke-49 ASEAN Senior Transport Officials Meeting (STOM) yang digelar virtual pada 16 Juni-17 Juni 2020. Adapun rangkaian pertemuan pada hari pertama didahului dengan 1st Task Force Meeting on Mid Term Review of KLTSP 2016-2025 yang dipimpin oleh Kepala Pusat Fasilitasi Kemitraan dan Kelembagaan Internasional, M.I Derry Aman yang membahas perkembangan program kerjasama di bawah kerangka Kuala Lumpur Strategic Transport Plan 2016-2025.

Sementara, pada hari kedua dilanjutkan dengan pertemuan 49 ASEAN Senior Transport Officials Meeting (STOM) dan Ad hoc STOM + China Meeting. Dalam pertemuan tersebut, turut hadir Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono selaku Head of Delegation (HOD) Indonesia.

"Isu-isu terkait dengan peningkatan konektivitas serta perkembangan kerjasama di sektor transportasi akan menjadi isu utama yang akan dibahas pada pertemuan ASEAN STOM kali ini, khususnya dalam upaya meningkatkan perdagangan dan perekonomian di ASEAN pada masa pandemi COVID-19 yang tengah terjadi," ujar Djoko dalam keterangan tertulis, Rabu (17/6/2020).

Djoko menjelaskan, dalam pertemuan tersebut akan dibahas langkah-langkah yang diambil untuk memastikan konektivitas rantai pasokan (supply chain) tetap terbuka dan berfungsi dengan baik di tengah pandemi COVID-19. Adapun moda transportasi yang terlibat meliputi transportasi udara, darat dan laut.

"Diharapkan ini dapat memperkuat usaha bersama negara anggota ASEAN untuk mengatasi dampak pandemi ini pada sektor transportasi, termasuk langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam rangka pemulihan ekonomi ASEAN, mengingat sektor transportasi memegang peranan penting," jelasnya.

Sebagai HOD Indonesia, Djoko menyampaikan usulan terkait penyeragaman protokol kesehatan dalam pengoperasian moda transportasi dan pada simpul transportasi barang dan penumpang. Selain itu, terkait repatriasi awak kapal dan perlindungan awak kapal juga menjadi catatan yang disampaikan dalam rapat tersebut.

Lebih lanjut, Djoko mengatakan, beberapa hal khusus pada sektor penerbangan juga disampaikan guna mencegah penyebaran COVID-19. Hal tersebut meliputi penetapan Peraturan Dirjen Perhubungan Udara Nomor: KP 89 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi dalam rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19 pada Transportasi Udara, dan penetapan SE Dirjen Perhubungan Udara Nomor: SE 17 Tahun 2020 tentang Pesawat Konfigurasi Penumpang yang Digunakan untuk Mengangkut Kargo di dalam Kabin Penumpang.

"Saya juga menyampaikan bahwa Kementerian Perhubungan telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi menghadapi wabah COVID-19 sesuai dengan petunjuk yang dikeluarkan oleh ICAO dan WHO diantaranya adalah terkait penanganan fasilitasi di lingkungan bandara, kelaikudaraan dan pengoperasian pesawat, penerbangan udara dan navigasi udara," katanya.

Dalam pertemuan tersebut, juga dibahas terkait rencana penyelenggaraan ASEAN-China Transport Ministers Special Meeting yang akan digelar virtual pada 13 Juli - 17 Juli 2020. Pada pertemuan tersebut nantinya akan membahas dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh logistik dan transportasi internasional di tengah pandemi COVID-19.

"Nantinya diharapkan nantinya masing-masing negara juga dapat berbagi pengalaman dalam melawan pandemi COVID-19 melalui usaha-usaha terkait transportasi, sekaligus nanti akan diterbitkan Joint Ministerial Statement tentang penguatan kerja sama dalam pencegahan dan pengendalian pandemi serta pengelolaan rantai pasokan yang aman dan seimbang," imbuhnya.

Djoko memaparkan, adapun sejumlah agenda yang akan dibahas meliputi Kuala Lumpur Transport Strategic Plan (KTSP), kelanjutan usulan proyek perpanjangan Singapore-Kunming Rail Link (SKRL) hingga ke Surabaya, kepastian simpul (node) yang berada di jalur AH150 Pontianak-Entikong, dan sejumlah agenda lainnya di sektor transportasi darat, laut, dan udara.

"Di sektor penerbangan terkait kerja sama angkutan udara atau air agreement ASEAN-New Zealand, Indonesia akan menawarkan Makassar sebagai hak angkut ke-5 dalam kerangka ANZ-ASA, sedangkan untuk hak angkut ke 3 dan 4, Indonesia membuka poin Cengkareng, Denpasar, Ujung Pandang, Surabaya dan Kuala Namu," katanya.

Selain kerja sama angkutan udara dengan New Zealand, dalam pertemuan ini juga membahas perkembangan negosiasi dengan Negara Uni Eropa dalam ASEAN-EU Comprehensive Air Transport Agreement (AE-CATA). Djoko mengatakan, Indonesia berencana untuk menyediakan stimulus bagi sektor penerbangan untuk mendukung pariwisata.

Sementara pada sektor transportasi darat, The ASEAN Land Transport Map juga turut dibahas khususnya terkait jalur AH150 Pontianak-Entikong. Pada akhir tahun 2019, Indonesia telah diselesaikan perluasan jalan dari 2 jalur menjadi 4 jalur di lintas AH150 sepanjang 5,5 kilometer.

"Saat ini Indonesia telah mengimplementasikan regulasi berkaitan dengan road safety seperti regulasi batas kecepatan maksimal, regulasi drunk-driving law, regulasi pemakaian helm bagi pengendara sepeda motor, regulasi pemakaian seat belt, dan regulasi larangan penggunaan telepon genggam saat mengemudi," pungkasnya.

Untuk sektor transportasi laut, dalam pertemuan tersebut Djoko menyampaikan perkembangan terkait sejumlah hal diantaranya status finalisasi pedoman pemeliharaan saluran navigasi di kawasan ASEAN, status finalisasi pedoman untuk tindakan pengamanan dengan rute kapal, dan update penyelesaian proyek tentang Program Pelatihan Personel Tingkat Lanjut untuk Layanan Lalu Lintas Kapal (Vessel Traffic Service / VTS)" dan proposal proyek Fase 3.

Adapun dalam pertemuan tersebut turut hadir negara-negara di ASEAN dan negara mitra ASEAN lainnya seperti Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam dan China.

(ega/ega)