DPRD Sulsel Minta Pelabuhan Bonto Bahari di Maros Segera Difungsikan

Muhammad Nur Abdurrahman - detikNews
Selasa, 16 Jun 2020 16:26 WIB
Wakil Ketua DPRD Sulsel Muzayyin Arif saat meninjau PPI Bonto Bahari di Maros (Foto: Istimewa)
Foto: Wakil Ketua DPRD Sulsel Muzayyin Arif saat meninjau PPI Bonto Bahari di Maros (Foto: Istimewa)
Maros -

Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan Muzayyin Arif meminta Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Bonto Bahari, Maros segera difungsikan untuk aktivitas nelayan. Sebab, sejak dibangun 8 tahun silam, PPI tersebut belum digunakan oleh para nelayan.

Hal itu disampaikan Muzayyin saat meninjau PPI Bonto Bahari Maros, Selasa (16/6/2020). PPI Bonto Bahari ini diketahui dibangun Pemkab Maros, sebelum diserahkan ke pihak Pemprov Sulsel.

"Kami harapkan PPI Bonto Bahari Maros ini segera difungsikan agar harapan kita menjadikan Maros sebagai daerah penyangga pangan dan perikanan di Sulsel bisa terwujud, khususnya target menjadikan Maros sebagai daerah Minapolitan," kata Muzayyin.

Muzayyin mengaku meninjau PPI Bonto Bahari usai menerima aduan nelayan Bontoa. Para nelayan mengeluhkan PPI Bonto Bahari yang tidak bisa dimanfaatkan.

Muzayyin yang turut didampingi Kepala Dinas Kelautan Perikanan Sulsel Sulkaf S Latief ini menyebutkan salah satu kendala tidak difungsikannya PPI Bonto Bahari, karena di sekitar PPI tidak memiliki pemecah ombak, sehingga nelayan kesulitan menambatkan perahunya di PPI. Selama ini, nelayan membawa perahunya ke muara sungai, sehingga saat air surut, nelayan kesusahan pergi melaut.

"Kami ke sini melihat langsung kondisi PPI Bonto Bahari setelah menerima aduan nelayan Bontoa yang mengatakan PPI tidak bisa dimanfaatkan nelayan untuk mendaratkan hasil melaut mereka," tuturnya.

Menurut politisi PKS ini, kondisi PPI Bonto Bahari Maros, nyaris sama dengan beberapa PPI di beberapa kabupaten lainnya di Sulsel, seperti di Bone, Sinjai, dan Takalar.

Selain dinilai tidak layak untuk dimanfaatkan nelayan. Alat penyuling air laut menjadi air tawar di PPI Bonto Bahari juga tidak berfungsi, sehingga tidak bisa membantu mengatasi krisis air yang dialami masyarakat Bontoa pada saat musim kemarau.

"Kami sangat sayangkan PPI yang dibangun dengan anggaran Pemkab Maros puluhan miliar ini hanya menjadi kawasan tempat nongkrong dan jadi ajang balapan liar remaja di Maros," ucap Muzayyin.

(mna/mae)