In Memoriam Pramono Edhie Wibowo

Terjepit di Antara Presiden Megawati dan SBY (1)

Sudrajat - detikNews
Minggu, 14 Jun 2020 10:38 WIB
Ketua Badan Pembinaan Organisasi, Keanggotaan dan Kaderisasi (BPOKK) Partai Demokrat Pramono Edhie Wibowo (keempat kanan) bersama Wakil Ketua BPOKK Sasdawati (kelima kiri) dan sejumlah pengurus Partai Demokrat mengepalkan tangan pada pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) Ke-2 DPD Partai Demokrat Jateng, di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/9). Musda akan mengedepankan musyawarah untuk mufakat dalam memilih ketua dewan pimpinan daerah periode selanjutnya.
Pramono Edhie Wibowo (Dok. Partai Demokrat)
Jakarta -

Tanggal 27 September 2000 menjadi momen tersendiri bagi Pramono Edhie Wibowo. Kala itu, sebagai Komandan Grup 5 Kopassus, dia harus menyampaikan paparan soal keahlian anggota Grup 5 (antiteror) Kopassus kepada Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Selain Taufik Kiemas, hadir dalam kunjungan itu KSAD Jenderal Tyasno Sudarto, Menteri Perindustrian Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menko Polkam Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Entah terpikat oleh paparannya atau karena alasan lain, tak lama setelah kunjungan itu, Megawati mengangkatnya sebagai ajudan. Ketika Presiden KH Abdurrahman Wahid lengser pada 23 Juli 2001, Megawati, yang naik jadi presiden, mempertahankan Pramono sebagai ajudan hingga 2004.

"Itu kasusnya seperti Fiman Gani (mantan Kapolda Metro Jaya) yang menjadi ajudan saat Pak BJ Habibie wapres lalu menjadi Presiden menggantikan Pak Harto," kata Rajab Ritonga, mantan wartawan Antara yang lama bertugas di lingkungan tentara dan Istana, kepada detikcom, Minggu (14/6/2020).

Dalam buku 'Pramono Edhie Wibowo: Cetak Biru Indonesia ke Depan' yang ditulisnya, Rajab menyebut menjadi ajudan adalah penugasan pertama Pramono di luar korps baret merah.

Simak video 'Moeldoko Mengenang Sosok Pramono Edhie Penuh Kesederhanaan':

Selanjutnya
Halaman
1 2