Modus TPPO di Kapal Ikan: Dijerat Utang hingga Iming-Iming Gaji Besar

Rahel Narda C - detikNews
Rabu, 10 Jun 2020 16:33 WIB
Lima kapal maling ikan diciduk di perairan Natuna Utara. Kapal direkayasa seolah-olah berasal dari Malaysia, ternyata setelah diperiksa berasal dari Vietnam.
Ilustrasi Kapal Ikan (Kementerian Kelautan dan Perikanan)
Jakarta -

Internasional Organization for Migration (IOM) menjelaskan beberapa modus yang biasa terjadi dalam perdagangan orang di kapal ikan. Modus tersebut dari penculikan, iming-iming gaji yang besar, hingga tawaran bekerja magang.

National Programme Coordinator Counter Trafficking and Labour Migration Unit (CTLM) IOM, Among Pundi Resi, mengatakan modus penculikan cenderung terjadi di luar negeri seperti Myanmar dan Laos. Sementara modus iming-iming gaji besar, penawaran magang, hingga penipuan sering terjadi kepada calon anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI).

"Kalau dari ABK kita rata-rata bujuk rayu dengan iming-iming gaji, jeratan utang, tawaran magang. Ini juga beberapa mereka disampaikannya adalah magang," kata Among dalam telekonferensi di diskusi bertajuk 'Mengungkap Kejahatan Perdagangan Orang dan Kerja Paksa pada Industri Perikanan Tangkap' pada Rabu (9/6/2020).

Among mengungkapkan banyak juga modus perekrutan ABK WNI dengan cara penipuan. Hal ini, menurut Among, biasa dilakukan oleh kerabat atau teman dekat.

"Kemudian menggunakan orang dekat. Sekarang perekrutannya mereka mulai menggunakan orang dekat sahabat dan teman dan teman sebaya. Dan penipuan jenis pekerjaan. Janjinya adalah bekerja di darat tapi ternyata di laut. Dan yang terakhir adalah penipuan dalam konteks tempat kerja atau sering kali para ABK hanya dibilang atau diinformasikan akan bekerja di Korea tanpa pernah diberi informasi yang memadai," jelas Among.

Selain itu, Among mengungkapkan beberapa jenis eksploitasi yang biasanya dilakukan oleh pihak kapal. Menurutnya, bentuk eksploitasi sering terjadi dalam bentuk pengaturan jam kerja yang panjang.

Selanjutnya
Halaman
1 2