Kisah Pilu Seorang Nenek di Maros, Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot

Moehammad Bakrie - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 11:20 WIB
Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di gubuk reyot tak layak huni di Maros, Sulsel. (Foto: M Bakrie/detikcom)
Foto: Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di gubuk reyot tak layak huni di Maros, Sulsel. (Foto: M Bakrie/detikcom)
Maros -

Karena tak ingin menyusahkan keluarganya, Hadi, seorang nenek yang diperkirakan telah berusia lebih dari 70 tahun memilih tinggal di sebuah gubuk reyot tak layak huni di sebuah tempat terpencil perbatasan antara desa Tunikamasea dan Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan.

Sudah lebih dua tahun, nenek malang ini tinggal di dalam gubuk tua berukuran 3x4 meter yang dulunya menjadi tempat penyimpanan makanan ternak warga yang tidak terpakai lagi. Mulai dari dinding hingga lantai yang terbuat dari bambu, pun sudah banyak yang rapuh dan patah termakan rayap.

Meski usianya sudah renta, Hadi tetap mencoba hidup mandiri dengan bercocok tanam. Hasilnya, ia jual untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk membeli lauk pauk. Hanya saja, sudah beberapa bulan ini, ia tidak bisa lagi banyak bergerak karena merasa sakit saat mencoba berdiri dan berjalan.

Nenek malang ini memang semasa hidupnya tidak pernah bersuami hingga tidak memiliki keturunan. Keluarga terdekatnya saat ini hanya keponakannya yang rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari gubuknya. Meski sering diajak untuk tinggal bersama, Hadi kekeh digubuknya itu.

"Sudah dua tahun tinggal di sini, dulunya juga tinggal sendiri dan jauh dari keluarga. Biasa saya jual sayur-sayuran buat beli ikan saya makan. Sekarang karena sudah tidak bisa kerja karena sakit kalau mau berdiri. Saya tidak mau susahkan orang," kata Nenek Hadi saat ditemui, Rabu (3/6/2020).

Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di gubuk reyot tak layak huni di Maros, Sulsel. (Foto: M Bakrie/detikcom)Nenek Hadi yang hidup sebatang kara di gubuk reyot tak layak huni di Maros, Sulsel. (Foto: M Bakrie/detikcom)

Di dalam gubuknya, hanya ada satu kasur dan bantal kapuk yang sudah lusuh. Tidak ada satupun lemari untuk menyimpan pakaian atau makanan. Nenek hadi hanya menyimpan pakaiannya di kardus, sementara makanannya ia tempatkan di dalam rantang yang ia gantung di tiang agar tak dimakan kucing.

Sementara di bawah gubuknya, terdapat banyak tumpukan kayu bakar yang ia gunakan untuk memasak sehari-hari. Di antara tumpukan kayu itulah, nenek hadi menempatkan tungkunya untuk memasak dan sangat berbahaya jika terjadi kebakaran.

"Saya tidak punya uang untuk perbaiki. Keponakan saya juga sama saja. Yah terpaksa lah tinggal di sini biar kondisinya begini. Mau apa lagi. Saya tetap masak sendiri, meskipun saya makannya sangat sedikit. Kadang tinggal saja basi," sebutnya dalam bahasa Bugis.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2