Round-Up

Buka-bukaan KPK soal Detik-detik Penangkapan dan Penahanan Nurhadi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 06:19 WIB
KPK mengumumkan penangkapan tersangka kasus suap-gratifikasi Rp 46 miliar, eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono.
Foto: Nurhadi. (Grandyos Zafna-detikcom)

Nurhadi Bungkam Usai Diperiksa KPK

Nurhafi dan Rezky langsung ditahan KPK selama 20 hari pertama.

"Penahanan rutan dilakukan kepada dua orang tersangka tersebut selama 20 (dua puluh) hari pertama terhitung sejak 2 Juni 2020 sampai 21 Juni 2020 masing-masing di Rumah Tahanan KPK Kavling C1," kata Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2020).

Nurhadi dan Rezky keluar gedung KPK sekitar pukul 15.00 WIB. Nurhadi dan Rezky terlihat memakai rompi tahanan.

Keduanya tampak memakai masker. Nuhadi dan Rezky tak berkomentar apapun saat dibawa menuju mobil tahanan.

Telihat keduanya dikawal oleh pegawai KPK. Keduanya dibawa dengan dua mobil yang berbeda.

KPK Tepis Isu Nurhadi Ada Pengawalan


KPK menyatakan tidak mendapatkan halangan yang berarti saat menangkap Nurhadi kemarin malam.

"Faktanya sampai tadi malam kami berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk kemudian bersama-sama menangkap, bahwa kami kemudian masuk tidak ada sedikitpun halangan. Jadi kalau memang kemudian ada yang menyatakan dikawal, dijaga, kami memasuki ruangan itu tanpa ada sedikitpun halangan dari pihak manapun," kata Wakil Ketua KPK Nutul Ghufron di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2020).

Hanya saja, Ghufron mengatakan Nurhadi sempat tidak membukakan pintu rumahnya saat tim KPK datang. Ia menyebut tim KPK sampai membuka paksa rumah yang dihuni Nurhadi dan menantunya.

"Hanya yang bersangkutan memang tidak membukakan pintu karena mungkin dia takut atau apapun gitu ya sehingga dia tidak membuka pintu, kami membuka paksa saja. Tapi tidak ada halangan atau hambatan apapun dari pihak-pihak manapun," ujarnya

Meski demikian, Ghufron mengatakan pihak tetap melakukan penyelidikan terkait ada kemungkinan pihak-pihak yang membantu pelarian Nurhadi. Menurutnya, pihak yang sengaja membantu Nurhadi bakal dijerat Pasal 21 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang obstruction of justice atau merintangi penyidikan.

"Ya kalau itu benar, maka diduga melanggar Pasal 21 UU 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah ke UU 20 Tahun 2001. Maka kepada pihak-pihak tersebut tentu akan kami tindak tegas menggunakan Pasal 21," tuturnya.

KPK Janji Kembangkan Korupsi Nurhadi ke Pencucian Uang

KPK tak menutup kemungkinan Nurhadi uga bakal dijerat tindak pidana pencucian uang.

"Sekali lagi, itu sangat terbuka untuk dikembangkan ke TPPU (tindak pidana pencucian uang)," kata Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2020).

Ghufron mengatakan, Nurhadi bisa saja dijerat pencucian uang selama ditemukan bukti adanya proses penyamaran atau penyembunyian asal usul hartanya yang berasal dari tindak pidana korupsi. Ia menyebut KPK bakal mendalami seluruh hasil barang bukti di kasus Nurhadi yang sempat buron itu.

"Yang akan kami terus dalami berdasarkan hasil tangkapan terhadap DPO tersebut. Artinya sangat terbuka, keterbukaannya itu melihat bagaimana hasil-hasil pemeriksaan dan alat bukti yang kami kumpulkan," ujarnya.

Halaman

(aan/idh)