Pendapatan Sopir Angkot Anjlok Gegara Corona, Golkar DKI: Semua Terdampak

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 31 Mei 2020 08:04 WIB
Terus digempur virus Corona, Pengusaha angkot, Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta mengatakan angkutan umum terancam gulung tikar.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta mengomentari terkait dampak Corona terhadap sopir angkot yang ada di DKI Jakarta. Bukan hanya sopir angkot, pandemi virus Corona juga disebut berdampak pada seluruh aspek dan profesi yang ada di DKI Jakarta.

"Dampak COVID terjadi di semua aspek dan semua profesi. Jangankan Supir Angkot, anggota Dewan juga terdampak," kata Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Basri Baco saat dihubungi, Sabtu (30/5/2020).

Basri menyebut dampak Corona ini memang harus ditanggung oleh pemerintah dan juga masyarakat. Karena itu, menurutnya seluruh masyarakat diminta juga turut membantu pemerintah memerangi virus Corona ini.

"Pemerintah tidak bisa menanggung semua akibat dari COVID ini, pemerintah juga punya keterbatasan. Menahan penyebaran COVID juga tanggung jawab kita semua. Perlu kerja sama antara masyarakat dan pemerintah agar kita bisa menang melawan COVID ini," ucapnya.

"Yang kita harus lakukan adalah prihatin dan berhemat serta jaga kesehatan dan tertib ikut anjuran pemerintah terkait protokol kesehatan. Jangan sampe kondisi kita yang tidak baik secara ekonomi harus jadi tambah parah karena terkena COVID," sambungnya.

Selain itu, Basri menyebut seharusnya saat ini pemerintah sudah merata memberikan bantuan sosial sebanyak tiga kali. Dia menyarankan masyarakat untuk mengecek ke RT/RW jika ada yang memang baru mendapatkan satu kali bantuan.

"Kalau ternyata ada wilayah yang benar-benar baru satu kali dapat bantuan, ini yang harus dicek. Bukan profesinya ya tapi wilayahnya karena bansos itu dibagi bukan ke profesi terdampak tapi ke wilayah dan masyarakat terdampak," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Pandemi virus Corona mengakibatkan banyak masyarakat terdampak secara ekonomi, tak terkecuali para sopir angkutan umum di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Para sopir tersebut juga mengeluhkan bantuan sosial pemerintah yang mereka anggap belum merata.

"Bantuan pemerintah kita ada pernah yang sebulan Rp 600 ribu. Tapi baru nerima bantuan pertama doang. Setelah itu, belum nerima lagi sampai sekarang," kata Ali, salah satu sopir angkutan umum, saat ditemui di Terminal Kampung Melayu, Sabtu (30/5).

Ali, ayah empat orang anak tersebut, putar otak untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk itu, Ali mengaku meminta istrinya membantunya bekerja memenuhi kebutuhan keluarga.

Selain itu, Ali mengaku tidak punya pilihan saat ini selain tetap menjadi sopir angkutan umum, meski penumpang dan pendapatan menurun drastis. Dia hanya berharap pemerintah ke depannya memberikan perhatian lebih lagi kepada rakyat dengan ekonomi seadanya seperti dirinya.

(maa/lir)