3.324 Anak Kena Corona, Jokowi Harus Lakukan Ini Sebelum Buka Sekolah

Yudistira Imandiar - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 13:14 WIB
Pendidikan jadi salah satu upaya bagi anak-anak untuk dapat meraih cita-cita. Meski dalam keterbatasan, Anak-anak di perbatasan RI tetap semangat bersekolah.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Tahun ajaran baru pendidikan akan segera dimulai di tengah pandemi COVID-19. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat pun meminta pemerintah mendengarkan masukan dari pakar pendidikan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam menentukan metode belajar paling efektif di tengah kondisi pandemi.

"Penting juga untuk belajar dari negara lain untuk melihat metode paling efektif, termasuk ke negara yang sudah terlebih dahulu membuka kegiatan di sekolah, sebelum masuk tahun ajaran baru," kata wanita yang akrab disapa Rerie dalam keterangannya, Jumat (29/5/2020).


Rerie menjabarkan, berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) hingga 18 Mei 2020, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) usia anak mencapai 3.324 dan sebanyak 129 anak berstatus PDP meninggal dunia. Temuan ini, kata dia, menunjukkan anggapan kelompok usia anak tidak rentan terhadap COVID-19 atau hanya akan menderita sakit ringan saja tidak benar.

Menurut Rerie, data tersebut seharusnya bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan otoritas pendidikan.

"Apakah perlu membuka tahun ajaran baru dalam waktu dekat dengan pelonggaran kebijakan atau melanjutkan dan memperkuat sistem belajar jarak jauh sepanjang pandemi COVID-19 masih berlangsung," kata Rerie.


Pendidikan, imbuh Rerie, memang merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar karena menyangkut generasi penerus. Ia berpendapat, apabila pemerintah memutuskan untuk membuka kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah, perlu dirumuskan protokol kesehatan yang tepat, seperti pengaturan jarak bangku di kelas, menyiapkan fasilitas tempat cuci tangan sebanyak mungkin di sekolah, mengatur jarak bangku kantin, menyiapkan masker, dan sebagainya.

Rerie mengambil contoh. salah satu sekolah di Korea Selatan yang memodifikasi sedemikan rupa bangku sekolah mereka dengan menyiapkan partisi.

"Hal ini perlu dipikirkan sejak jauh hari sebelum membuka kembali kegiatan di sekolah," imbuhnya.



Tapi, lanjut Rerie, jika diputuskan kegiatan belajar mengajar masih dilakukan dari rumah atau jarak jauh, maka pemerintah perlu segera mengevaluasi proses belajar jarak jauh yang dalam beberapa bulan terakhir ini dilaksanakan.

Ia menegaskan, evaluasi mesti dilakukan hingga ke pelosok, termasuk melihat infrastruktur seperti jaringan internet, ketersediaan komputer, serta kemampuan guru dalam menyampaikan pelajaran secara jarak jauh. Hasil evaluasi tersebut, terangnya, dipakai sebagai dasar untuk perbaikan sistem belajar mengajar di masa mendatang.

"Saya kira upaya-upaya produktif untuk mencari solusi untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar di masa wabah COVID-19 ini harus segera dilakukan. Karena jangan sampai generasi berikut menjadi korban akibat lalai memikirkan dunia pendidikan," ujar Rerie.

(mul/ega)