Jejak dan Derap Peradaban Islam (14)

Penemuan Aljabar

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 07:00 WIB
Imam Besar Masjis Istiqlal Prof Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar. Foto: Fauzan Kamil
Jakarta -

Dari segi namanya saja sudah menjadi bukti bahwa penemu Aljabar ialah seorang Arab, tepatnya Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi, seorang yang ilmuan muslim berkebangsaan Persia. Aljabar diambil dari buku karyanya berjudul "Al-Kitab al-Jabr wa al-Muqabalat".

Aljabar sendiri menurut bahasa berarti pertemuan, hubungan, dan perampungan. Selain merupakan cabang matematika yang dapat dicirikan sebagai generalisasi dan perpanjangan aritmatika, Aljabar juga merupakan nama sebuah struktur yang abstrak. Dengan kata lain, Aljabar adalah cabang matematika yang mempelajari struktur, hubungan dan kuantitas, dengan menggunakan symbol-simbol yang biasanya berupa huruf untuk merepresentasikan bilangan secara umum sebagai sarana penyederhanaan dan alat bantu memecahkan masalah-masalah perhitungan, misalnya simbol x mewakili bilangan tertentu yang diketahui dan y untuk bilangan yang ingin diketahui.

Aljabar sesungguhnya merupakan penyempurnaan terhadap pengetahuan yang telah dicapai oleh bangsa Mesir dan Babylonia sekitar 2000 tahun SM. Kedua bangsa ini sudah ditemukan menggunakan beberapa catatan yang berhubungan dengan Aritmatika, namun system dan strukturnya masih sangat sederhana. Para ilmuan Barat sekalipun mengakui kalau Al-Khawarizmi sebagai pencetus Aljabar dan karenanya ia juga disebut sebagai "Bapak matematika". Memang pernah ada yang menyebut nama Diophantus, yang kerap disebut-sebut sebagai penemu Aljabar. Namun demikian, pandangan para sarjana Matematika, khususnya Aljabar, karya Al-Khawarizmi jauh lebih baik di banding karya Diophantus.


Dengan menggunakan sistem ini, maka kita dengan mudah dapat mengaplikasikan rumus dan menghitung solusi untuk nilai yang tak diketahui untuk kelas masalah yang biasanya dipecahkan dengan menggunakan persamaan Linier, persamaan Kuadrat dan Persamaan Linier tak tentu. Ini berarti sebuah langkah progresif jika dibandingkan dengan ilmuan Yunani, Mesir, India, dan Cina dalam melenium pertama sebelum masehi, yang biasanya masih menggunakan metode geometri untuk memecahkan persamaan seperti ini.


Al-Khawarizmi lahir pada tahun 780 M di Khwarizm di Khiva, Provinsi Khurasan pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah, sekarang Xorazm, menjadi salahsatu provinsi Uzbekistan. Ia wafat sekitar tahun 850 M. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di beberapa lembaga pendidikan tinggi di Bagdad. Yang pertama membuatnya terkenal ialah karya-karyanya yang berhubungan dengan solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Karya-karyanya berupa Aritmatika banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, yang waktu itu Amerika Serikat belum lahir.


Kontribusi beliau yang amat monumental ialah tentu saja Aljabar, Matematika, dan Logarisme (yang diambil dari kata Algorismi atau Al-Khawarizmi), Latinisasi dari nama beliau. Ia juga memperkenalkan angka-angka India, yang kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia juga merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit.

Al-Khawarizmi juga dikenal menguasai disiplin ilmu-ilmu lain selain Matematika atau Aljabar. Ia juga dikenal menguasai pengetahuan Fikih dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya. Jika ia berbicara tentang fikih atau ilmu-ilmu keislaman lainnya, tidak disangka kalau ia seorang ahli matematika ulung. Selain ilmuan juga praktisi keamaan, sehingga selain ia alim ia juga seorang yang arif. Demikianlah ciri-ciri umum ilmuan Islam di abad pertengahan.

(lus/lus)