Kolom Hikmah

Takwa Puasa Bukan "Terserahlah"

Abdurachman - detikNews
Selasa, 26 Mei 2020 14:32 WIB
Abdurachman, guru besar UNair
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Terserahlah. Viral video yang mengunggah kekecewaan petugas medis terhadap perilaku masyarakat, juga perilaku pemerintah dalam menaati Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sayangnya kekecewaan itu bersamaan dengan tibanya penghujung bulan ramadan. Waktu di mana para pelaksana puasa ramadan akan mencapai tingkat takwa yang semakin sempurna. Adakah takwa bisa mengubur kecewa menjadi syukur?

Tiba masanya di Madinah terjadi fitnah kebohongan besar terhadap diri ibunda mukminin sayyidah 'Aisyah ra. Beliau dituduh dengan tuduhan keji. Salah satu yang menuduh itu adalah seorang muhajirin yang masih berkerabat dengan sayyidah 'Aisyah, Mistah ibnu Asasah. Mistah adalah putra bibi Abu Bakar ra. Itu berarti sepupu 'Aisyah. Mistah termasuk orang miskin, tidak berharta kecuali apa yang ia terima dari bantuan Abu Bakar. Mistah seorang muhajirin yang berjihad di jalan Allah. Tetapi ia terpeleset dan melakukan suatu kesalahan, kemudian Allah menerima tobatnya. Ia telah menjalani hukuman yang harus diterima akibat kesalahannya itu.

Karena ulah Mistah, Abu Bakar bersumpah tidak akan memberikan bantuannya lagi kepada Mistah selamanya,"Demi Allah, aku tidak akan memberinya bantuan lagi barang sedikit pun, selamanya."

Terhadap kejadian ini turun ayat QS 24:22, "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Karena sesungguhnya setiap amal perbuatan mendapat balasan sesuai dengan jenis amal perbuatannya, sebagaimana engkau memaafkan orang yang keliru kepadamu, maka Allah memaafkan kekeliruanmu.

Menanggapi ayat tersebut Abu Bakar bersumpah balik,"Demi Allah, aku tidak akan mencabutnya selama-lamanya." Perkataannya kali ini untuk membatalkan sumpah sebelumnya.

Memaafkan dan kesabaran yang dicontohkan Abu Bakar adalah perilaku takwa. Ialah segala perbuatan baik yang diniatkan karena mengikuti petunjuk Allah.

Perkataan "terserah" dari sebagian masyarakat medis terhadap perbuatan sebagian masyarakat Indonesia yang abai terhadap PSBB mengingatkan kita pada peristiwa yang menimpa Abu Bakar ini.

Peristiwa keji yang menimpa Abu Bakar dan putrinya tidak bisa disetarakan dengan abainya masyarakat terhadap PSBB. Kalau begitu sesuai dengan pesan ayat di atas, sepertinya perkataan "terserah" terlalu dini untuk disampaikan.

Petugas medis yang baik, yang telah berhasil meningkatkan takwa setelah puasa ramadan, bila mengikuti teladan di atas perlu lebih bersabar. Kesabaran yang mengundang rahmat Allah swt. Ialah agar Allah swt. berkenan memaafkan kekeliruan-kekeliruan mereka atas kesabaran mereka itu. Kesabaran yang menghasilkan kelapangan memberikan maaf dan melanjutkan pelayanan sebagaimana ketika masyarakat patuh menjalankan PSBB.

Beberapa waktu sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah pernah berusaha datang ke negeri Thaif untuk berdakwah. Sementara masyarakat Qurays Mekkah memusuhi beliau dengan permusuhan yang mengancam jiwa, maka beliau pergi ke Thaif. Kota ini berjarak sekitar 80 kilometer dari Mekkah. Thaif termasuk kota yang lebih subur daripada Mekkah, masyarakatnya terkenal baik dalam menjamu tamu.

Setibanya Rasulullah di sana, ternyata sambutan mereka bukan kebaikan dan keramahan. Mereka mengusir Rasulullah dengan kata-kata yang tidak pantas. Bahkan, di perjalanan Rasulullah menuju Mekkah, beliau dilempari batu. Peristiwa ini membuat Rasulullah berdarah-darah.

Demi menyaksikan kondisi ini, para malaikat penjaga gunung mohon ijin kepada beliau. Mereka telah memperoleh ijin dari Allah untuk mengikuti apa yang dimohonkan Rasulullah. Para malaikat bertanya kepada beliau, seandainya beliau mengijinkan untuk mengazab penduduk Thaif melalui timpukan gunung itu kepada mereka.

Menerima informasi ini Rasulullah mengangkat tangannya seraya berdoa,"Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

Doa yang bukan saja "menolak" akan ditimpakannya siksa kepada orang-orang yang menganiaya beliau, bahkan beliau memanjatkan permohonan agar para penganiaya itu memperoleh petunjuk. Contoh terbaik yang diteladankan seorang Rasul utama. Rasul sebagai rahmatan lil 'aalamiin, sebagai penebar rahmat Allah bagi semesta.

Terbentang contoh aplikatif dari Muhammad Rasulullah kepada para ummat beliau. Umat yang bersumpah untuk meneladani beliau secara serius. Sumpah itu menjadi batas tegas antara siapa yang mengaku Muslim dan yang bukan. Ialah sumpah dalam dua kalimat syahadat. Sumpah atas Wujud Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa, dan sumpah bahwa diri seorang Muslim akan meneladani Muhammad Rasulullah.

Pada saat itu Rasulullah terus berdoa, "Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku di hadapan sesama manusia. Wahai Allah Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang-orang yang lemah dan teraniaya. Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku. Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. Kesehatan dan karunia-Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan, yang karenanya membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat, daripada murka-Mu yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sehingga Engkau meridhaiku. Tiada daya dan upaya kecuali dari-Mu"

Doa yang meneladankan pembuktian diri sebagai hamba Allah, menyontohkan tawakkal sempurna dari seorang hamba yang mengucap dua kalimat syahadat. Ialah bersumpah bahwa diri ini tunduk patuh sempurna kepada Allah, sebagai bukti menjadi seorang hamba yang baik. Inilah takwa yang sempurna itu.

Jika ibadah puasa ramadan telah membekaskan takwa, maka contoh takwa dari Abu Bakar, terlebih dari Rasulullah saw. bisa menjadi acuan evaluasi. Benarkah takwa akibat didikan puasa ramadan masih membekas setelah ramadannya berlalu? Kalau lupa, semoga kita segera ingat lalu segera memohon ampunan Allah dalam doa, semoga takwa kita semakin sempurna.

Selamat melanjutkan pelayanan medis dengan baik, selamat melanjutkan seluruh amal shaleh dengan sempurna demi merawat takwa puasa hasil ibadah selama ramadan.

(erd/erd)