PBNU Soroti Pelanggar Protokol Kesehatan: Kesadarannya Rendah

Tim detikcom - detikNews
Senin, 25 Mei 2020 07:55 WIB
Robikin Emhas
Robikin Emhas (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengurus Besar Nadlalatul Ulama (PBNU) menilai sebagian masyarakat yang masih melaksanakan salat Idul Fitri berjemaah di masjid saat pandemi Corona bukan tidak memahami imbauan pemerintah hingga MUI. PBNU menilai kesadaran masyarakat rendah terkait bahaya COVID-19.

"Bukan, bukan karena sosialisasi supaya salat Id di rumah tidak sampai kepada mereka, mereka tahu ada imbauan itu. Mereka paham pemerintah melarang hal itu. Hemat saya, penyebab utama adalah masih rendahnya tingkat kesadaran akan bahaya COVID-19 dan pola penyebarannya," kata Ketua PBNU Robikin Emhas saat dihubungi, Minggu (24/5/2020).

Robikin menilai sebagian masyarakat memang sengaja mengabaikan protokol kesehatan sejak lama. Bahkan, menurutnya, tak sedikit masyarakat yang tidak percaya terkait Corona itu sendiri sehingga masih nekat mengabaikan imbauan pemerintah.

"Tanda-tanda pengabaian terhadap protokol kesehatan sudah tampak dari cukup lama. Sejak istilah pulang kampung populer, belanja di pasar-pasar jelang Lebaran, hingga pelaksanaan salat Id, bahkan tidak sedikit yang tidak mempercayainya," ucapnya.

Meski begitu, Robikin melihat masyarakat yang salat Id di masjid sebagian besar mulai menjalankan protokol jaga jarak saat salat berjemaah. Dia berharap masyarakat ke depan lebih memahami lagi protokol kesehatan.

"Ke depan, saya berharap kita lebih mematuhi protokol kesehatan. Rajin cuci tangan dengan sabun, memakai masker, jaga jarak fisik, dll," katanya.

Seperti diketahui sejumlah masjid di berbagai daerah di Indonesia terlihat masih didatangi oleh jemaah untuk menunaikan salat Id. Salah satunya Masjid Al Muhajirin, Kelurahan Kayuringin Jaya, yang didatangi jemaah salat atas izin Pemerintah Kota Bekasi.

Meski demikian, pihak pengurus masjid menerapkan protokol kesehatan terkait pandemi Corona (COVID-19) di masjid tersebut. Jemaah yang datang dilakukan pengecekan suhu tubuh dan cuci tangan. Yang tidak membawa masker juga diberi masker oleh pihak masjid.

Kemudian Masjid Jami Nurul Islam di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, tetap melaksanakan salat Id. Warga memadati masjid ini meski Jakarta masih menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Jemaah memadati area masjid hingga menutupi ruas jalan. Jemaah diminta membawa sajadah sendiri karena masjid tidak menyediakan alas untuk menghindari COVID-19.

Contoh lainnya adalah warga Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), yang beramai-ramai melaksanakan salat Id di sejumlah masjid. Padahal pemerintah telah mengimbau melaksanakan salat Id di rumah dan tidak ke masjid untuk mencegah penularan virus Corona (COVID-19).

Ada masjid yang pintu masuk dan semua jendelanya ditutupi terpal agar seolah tidak menggelar salat Id. Ada pula yang terang-terangan menggelar salat Id.

Tonton juga video 'Warga Ngamuk karena Dilarang Salat Id di Masjid':

[Gambas:Video 20detik]



(maa/rfs)