Pemerintah: Pasien Corona RS Wisma Atlet Cemas Ingin Lebaran dengan Keluarga

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 23 Mei 2020 16:39 WIB
Petugas mempersiapkan alat medis di RS Darurat Covid-19, kompleks Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta, Minggu (22/3/2020). Pemerintah menyiapkan 2.500 kamar tidur di tower enam dan tujuh Wisma Atlet yang digunakan sebagai RS Darurat Covid-19 untuk penanganan pasien Covid-19. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran. (Galih Pradipta/Antara Foto)
Jakarta -

Pemerintah mengungkapkan manajemen psikologi pasien positif virus Corona (COVID-19) di RS Darurat Wisma Atlet merupakan salah satu aspek penting. Pemerintah menyebut pasien positif di sana saat ini sedang diselimuti kecemasan karena ingin merayakan Idul Fitri bersama keluarga.

Hal itu disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, Achmad Yurianto (Yuri). Yuri awalnya bicara karakteristik soal pasien di RS Darurat Wisma Atlet.

"Karakteristik yang kami temukan di lapangan yaitu pada umumnya hampir semua pasien yang ada di RS Darurat Wisma Atlet adalah pasien mandiri, artinya mereka tidak diinfus, mereka tidak dipasangi oksigen sehingga mereka bebas bergerak. Namun, mereka dibatasi pada lantai-lantai perawatannya saja, sehingga mereka akan berada di lantai rawatan sepanjang mereka dirawat," ujar Yuri dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube BNPB, Sabtu (23/5/2020).

Yuri menjelaskan karakteristik tersebut menimbulkan permasalahan psikologis pasien. Barulah kemudian dia mengungkapkan kondisi psikologis pasien Corona di Wisma Atlet.

"Inilah yang kemudian secara spesifik akan menimbulkan permasalahan-permasalahan psikologis, apalagi tidak boleh ditengok oleh keluarganya dan saat ini menjelang Idul Fitri," sebut Yuri.

"Oleh karena itu, kecemasan untuk ingin ketemu keluarga, kecemasan untuk ingin berlebaran, berlebaran dengan keluarga, ini menjadi hal yang dominan. Inilah yang kemudian menjadi pekerjaan yang cukup besar, yang kemudian harus direspons," jelasnya.

Untuk menanggulangi masalah tersebut, pemerintah dibantu oleh organisasi profesi terkait. Yuri memastikan penanganan masalah psikologis pasien berjalan sesuai standar yang berlaku.

"Dan kita bersyukur organisasi profesi pun sudah turun tangan, turun tangan di dalam masalah ini. Oleh karena itu, kami melihat semuanya berjalan sesuai SOP (standard operating procedure)," terang Yuri.

Cerita Pekerja Indonesia Jalani Karantina di Wisma Atlet:

(zak/zak)