Kasus Baru Nyaris 1.000, Pemerintah Nyatakan RI Belum Capai Puncak Corona

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 22 Mei 2020 14:28 WIB
Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Corona, Prof Wiku Bakti Adisasmito
Ketua Tim Pakar Gugus Tugas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito (Rakean Radhana Natawigena / 20detik)
Jakarta -

Jumlah kasus baru COVID-19 pada Kamis (21/5) kemarin nyaris seribu kasus. Apakah itu pertanda Indonesia sedang menuju puncak atau mencapai puncak kurva Corona?

"Kalau menurut saya tidak begitu kondisinya," kata Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, kepada detikcom, Jumat (22/5/2020).

Untuk mengetahui puncak Corona dalam skala nasional, maka perlu pula menganalisis puncak Corona di berbagai daerah. Dia menjelaskan, saat ini berbagai daerah sedang berbenah diri untuk melaksanakan penanganan kasus Corona. Maka terlalu dini bila puncak kasus Corona disimpulkan untuk sekarang, karena daerah-daerah masih berbenah.

"Pada saat ini kurang tepat melihat (puncak) angka nasional karena tiap daerah (rumah sakit, laboratorium, Puskesmas, dll) sedang membenahi diri. Pada saat selesai berbenah nanti, barulah akan terlihat data riilnya. Dari situ, baru kita ikuti bagaimana trennya dan kapan puncaknya. Setelah semua daerah bagus, baru kita bisa lihat tren nasional," tutur Wiku.

Tes dalam jumlah banyak juga sedang dilakukan, spesimen baru per harinya mencapai 8 ribu, bahkan pernah 12 ribu spesimen per hari. Keruan saja, jumlah kasus Corona melonjak. Selain itu, ada faktor penundaan pengumuman kasus Corona karena proses-proses yang harus dilalui sebelum angka disampaikan ke publik. Jadi, lonjakan yang diumumkan di tanggal tertentu sebenarnya merupakan lonjakan yang terjadi sehari sebelumnya.

"Delay dalam pelaporan hasil pemeriksaan laboratorium ataupun laporan kasus yang belum real-time menjadi penyebab utamanya. Data akumulatif kemudian dilaporkan pada satu hari membuat terjadinya angka yang terlihat melonjak. Jadi tidak bisa dihubungkan dengan lonjakan kasus riil," kata Wiku.