Pembukaan Sekolah Harus Tunggu COVID-19 Terkendali

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Jumat, 22 Mei 2020 10:42 WIB
Dampah wabah corona, Pemkab Bogor turut mengeluarkan kebijakan meliburkan sekolah. Tampak suasana di SDN Bojongkulur, Kabupaten Bogor, kosong melompong.
Foto ilustrasi, tidak berhubungan langsung dengan berita. (Rengga Sancaya/detikcom)

Sementara itu, komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, menyatakan membuka sekolah pada untuk tahun ajaran baru 2020/2021 harus dipertimbangkan matang oleh pemerintah. Persoalan ini menyangkut keselamatan guru dan terutama jutaan anak-anak Indonesia yang menjadi peserta didik dari PAUD sampai SMA/sederajat.

"Apalagi jika mengingat kondisi terakhir di mana pasar, mal, dan bandara penuh sesak di saat seharusnya kita menjaga jarak dan tetap berada di rumah demi memutus penyebaran dan penularan COVID-19," ujar Retno pada detikcom, Kamis (21/5).

Menurut Retno, negara seperti China membuka sekolah setelah dinyatakan tak ada lagi pertambahan kasus COVID-19 selama 10 hari. Setelah resmi dibuka pun, para guru yang akan mengajar sudah menjalani isolasi dahulu selama 14 hari sebelum sekolah dibuka. "Jadi pembukaan sekolah benar-benar dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat dengan persiapan yang matang," katanya.

Namun, menurut Retno, persiapan yang matang pun tak menjamin sepenuhnya penyebaran COVID-19 bisa ditekan. Beberapa negara di Eropa yang memiliki sistem kesehatan baik dan membuka sekolah juga persiapan matang dan protokol kesehatan ketat ternyata masih menimbulkan klaster baru di lingkungan sekolah.

Karena itu, Retno memahami kekhawatiran orang tua murid untuk mengizinkan anak-anak kembali ke bangku sekolah dalam situasi pandemi yang belum sepenuhnya teratasi. Untuk kondisi seperti ini, dia meminta sekolah untuk memfasilitasi murid-murid yang memilih belajar dari rumah ketimbang kembali ke sekolah. "Alasan orang tua sangat jelas, mereka menjaga keselamatan putra atau putrinya," kata Retno.

Halaman

(pal/dnu)